Metafora adalah tulang punggung narasi yang kuat—alat kognitif yang mengubah deskripsi biasa menjadi pengalaman yang hidup. Namun, data dari analisis platform penyuntingan seperti Grammarly menunjukkan bahwa hingga 40% penggunaan metafora dalam naskah pemula mengandung ketidakonsistenan atau kebingungan yang mengganggu pembaca. Artikel ini bukan sekadar daftar larangan; ini adalah panduan mendalam yang mengungkap mengapa metafora gagal dari sudut pandang kognitif, dan memberikan kerangka langkah-demi-langkah untuk membangun, menguji, dan menyempurnakan metafora Anda. Kami akan membahas “gangguan koordinat mental”—sebuah konsep unik yang menjelaskan kebingungan pembaca—dan memberikan strategi perbaikan yang dapat diaplikasikan langsung.
Apa Sebenarnya Metafora Itu?
Metafora adalah perangkat linguistik di mana suatu konsep atau objek digambarkan secara langsung sebagai konsep atau objek lain yang berbeda, untuk menyiratkan kesamaan atau analogi di antara keduanya. Berbeda dengan perumpamaan (simile) yang menggunakan “seperti” atau “bagaikan”, metafora bersifat langsung dan imersif: “Lautan adalah seorang ibu yang murka,” bukan “Lautan seperti seorang ibu yang murka.”
Mengapa Metafora Begitu Penting (dan Sulit)?
Metafora bekerja karena cara otak kita memproses informasi. Menurut linguistik kognitif (Lakoff & Johnson, 1980), kita memahami dunia abstrak melalui hal-hal yang konkret. “Waktu adalah uang,” “Hidup adalah perjalanan.” Metafora membangun jembatan saraf. Kesalahan terjadi ketika jembatan ini dibangun dengan rancu, menuntut pembaca untuk melakukan kerja mental ekstra yang justru mengalihkan perhatian dari cerita.
5 Kesalahan Umum Penggunaan Metafora & Cara Memperbaikinya
1. Metafora Campur Aduk (Mixed Metaphor)
Contoh Kikuk: “Kita harus membakar jembatan itu dan berlayar dengan roda baru, karena bola sedang di tangan kita.”
Analisis: Ini menggabungkan tiga metafora berbeda (“membakar jembatan” = komitmen, “berlayar dengan roda baru” = memulai dengan cara baru, “bola di tangan” = kontrol) menjadi satu kalimat yang tidak masuk akal. Ini menciptakan gambar mental yang kacau.
Perbaikan Langkah-demi-Langkah:
- Identifikasi Setiap Unsur Metaforis: Tandai setiap frasa metaforis dalam kalimat.
- Pilih Satu Bingkai Dominan: Tentukan ide utama apa yang ingin disampaikan. Apakah tentang komitmen? Perubahan? Kontrol?
- Kembangkan Satu Metafora Itu Saja: Pilih metafora yang paling kuat dan kembangkan secara konsisten. “Kita telah membakar jembatan. Sekarang, kita harus berjalan maju di jalan baru ini dengan keyakinan penuh.”
- Baca Keras-Kerasan: Jika terdengar aneh, berarti memang aneh.
2. Metafora yang Klise dan Usang
Contoh Kikuk: “Dia adalah bunga mawar di tengah taman.”
Analisis: Klise telah kehilangan kekuatan emotifnya karena terlalu sering digunakan. Otak pembaca melewatinya tanpa pemrosesan mendalam.
Perbaikan Langkah-demi-Langkah:
- Kenali Klise: Jika Anda pernah mendengarnya puluhan kali, itu klise.
- Tanyakan: Esensi Apa yang Ingin Ditangkap? Dari contoh: kecantikan, keunikan, kemungkinan duri?
- Cari Analogi Baru dari Dunia Karakter: Daripada “bunga mawar”, bagaimana jika karakter Anda seorang ahli mesin? “Dia adalah baut berulir metrik sempurna di tengah rak mur-mur imperial yang berantakan.” Ini menunjukkan keunikan dan ketidakcocokan secara spesifik.
- Rujuk Pada Dunia Indrawi: Ciuman tidak harus “manis seperti madu.” Bisa jadi “ciumannya terasa seperti udara pagi di pegunungan—jernih, dingin, dan menghidupkan.”
3. Metafora yang Tidak Konsisten dengan Suasana atau Tone
Contoh Kikuk: Dalam adegan kematian yang muram: “Jiwanya melayang pergi seperti balon birthday yang terlepas.”
Analisis: Gambar “balon birthday” membawa konotasi kegembiraan dan perayaan, yang bertabrakan brutal dengan suasana duka.
Perbaikan Langkah-demi-Langkah:
- Analisis Mood Adegan: Tuliskan 3-5 kata yang menggambarkan suasana (muram, haru, tegang).
- Pilih Gambar dari Palet yang Sesuai: Untuk muram, pikirkan elemen alam yang tenang atau sirna: senja, kabut, lilin yang padam.
- Uji Dampak Emosional: “Jiwanya berlinang pergi bagai asap dari sumbu lilin yang akhirnya padam.” Gambar ini tetap halus dan sesuai suasana.
- Pertahankan Koherensi Internal: Pastikan metafora dalam satu adegan/karakter “berbicara bahasa yang sama.”
4. Metafora yang Terlalu Rumit atau Abstrak
Contoh Kikuk: “Pikirannya adalah sebuah simfoni konsep-konsep yang belum terorkestrasi, di mana motif-motif filosofis bertengkar dengan disonansi realitas.”
Analisis: Ini menggunakan metafora (symphony) untuk menjelaskan sesuatu yang sudah abstrak (pikiran yang kacau), sehingga justru memperumit.
Perbaikan Langkah-demi-Langkah:
- Prinsip: Dari Konkret ke Abstrak: Metafora terbaik menjelaskan yang abstrak dengan yang konkret.
- Sederhanakan Gambar Utama: Pilih satu aspek dari metafora kompleks itu. Fokus pada “kekacauan”.
- Cari Gambar Sehari-hari yang Universal: “Pikirannya seperti laci perkakas yang terguncang-guncang—semua kunci ingatan dan obeng logika bertumpukan tak karuan.”
- Minta Feedback: Jika butuh lebih dari 2 detik untuk memahami, itu terlalu rumit.
5. Gangguan Koordinat Mental (Sudut Pandang Unik)
Ini adalah konsep kunci yang sering diabaikan. Metafora membangun sistem koordinat mental di benak pembaca. Gangguan terjadi ketika penulis secara tidak sadar berpindah sudut pandang atau “kamera” dalam satu metafora yang sama.
Contoh Kikuk: “Dari puncak kesuksesannya, tantangan-tantangan di depan terlihat seperti bintik-bintik kecil, meski sebenarnya raksasa yang menghadang.”
Analisis: Awal metafora menempatkan kita di puncak, melihat ke bawah (“bintik-bintik kecil”). Lalu tiba-tiba, kita sejajar di tanah (“raksasa yang menghadang”). Perpindahan perspektif ini membuat pembaca harus “memutar ulang” adegan mentalnya.
Perbaikan Langkah-demi-Langkah:
- Visualisasikan Secara Literal: Gambar adegan metafora di kepala Anda seperti film.
- Tentukan Posisi Kamera Tetap: Apakah kita melihat dari jauh? Dari dalam? Dari atas?
- Pertahankan Posisi Itu: “Dari puncak kesuksesannya, tantangan-tantangan di depan terlihat seperti bintik-bintik kecil di lembah. Tapi dia tahu, setiap bintik itu adalah kota masalah yang bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk diselesaikan.” (Kamera tetap dari atas, hanya zoom in secara kiasan).
- Lakukan Tes “Kamera Film”: Jika metafora Anda harus direkam dengan kamera, apakah perlu potongan (cut) atau pergerakan kamera yang aneh? Jika ya, sederhanakan.
Proses 5 Langkah untuk Menguji & Memperbaiki Metafora
- Kumpulkan & Identifikasi: Setelah draf pertama, gunakan fitur highlight untuk menandai semua metafora.
- Analisis Masing-Masing: Gunakan checklist: Apakah klise? Apakah konsisten dengan suasana? Apakah gambarnya jelas? Apakah “kamera” mentalnya konsisten?
- Isolasikan Konteks: Baca kalimat sebelum dan sesudah metafora. Apakah alurnya lancar atau tersendat?
- Brainstorming Alternatif: Untuk setiap metafora yang bermasalah, tulis 3-5 alternatif yang lebih sederhana, spesifik, dan sesuai konteks.
- Baca Keras & Dapatkan Feedback: Baca bagian tersebut keras-keras. Rasa “kikuk” sering terdengar. Minta beta reader: “Apa gambar yang muncul di kepala Anda saat baca ini?”
FAQ (Pertanyaan yang Sering Dicari)
Q: Berapa banyak metafora yang harus ada dalam satu bab?
A: Tidak ada aturan baku. Kuncinya adalah kualitas, bukan kuantitas. Satu metafora yang brilian lebih berharga daripada lima metafora yang biasa saja. Hindari penumpukan metafora dalam paragraf yang pendek.
Q: Bagaimana membedakan metafora yang baik dan buruk?
A: Metafora yang baik terasa tak terelakkan dan mencerahkan. Ia mengungkap kebenaran dengan cara yang segar dan langsung klik di benak pembaca. Metafora yang buruk terasa dipaksakan, membuat pembaca berhenti sejenak dan mengerutkan dahi (bukan karena kagum, tapi karena bingung).
Q: Apakah metafora harus orisinal 100%?
A: Tidak harus sepenuhnya orisinal. Tujuan metafora adalah komunikasi yang efektif, bukan selalu kejutan. Namun, berusahalah untuk memberikan sentuhan personal atau kontekstual pada gambaran yang sudah dikenal. Bahkan metafora klise bisa diselamatkan dengan sedikit modifikasi yang cerdas.
Q: Bagaimana melatih kemampuan membuat metafora?
A:
- Baca Puisi dan Prosa Puitis: Penyair adalah ahli metafora.
- Lakukan Latihan “Pemetaan Dunia”: Ambil objek sehari-hari (cangkir, jam tangan) dan deskripsikan dengan istilah dari dunia lain (cangkir sebagai kapal, jam tangan sebagai penjara).
- Jurnal Observasi: Tulis apa yang Anda lihat dengan menggunakan perbandingan. Awan bukan hanya “putih”, tapi “seperti kapas yang tercabik” atau “seperti pualam yang retak”.
Metafora bukan sekadar hiasan; ia adalah infrastruktur makna dalam narasi. Dengan menghindari jebakan umum dan menerapkan disiplin dalam memperbaikinya, Anda tidak hanya memperindah tulisan, tetapi juga memperdalam koneksi emosional dan kognitif dengan pembaca. Mulailah dengan berlatih pada satu paragraf hari ini—identifikasi metaforanya, uji kekuatannya, dan saksikan tulisan Anda hidup dengan cara yang baru.
![]()
