Banyak penulis merasa sudah “rapi” karena menaruh tanda koma dengan benar, padahal satu kesalahan kecil sering terjadi: lupa memberi spasi setelah koma.
Kesalahan ini tampak sepele, tetapi berdampak pada:
- keterbacaan teks,
- kesan profesional tulisan,
- bahkan kredibilitas penulis.
Artikel ini membongkar aturan resmi spasi setelah koma, contoh benar–salah yang sering luput disadari, serta sudut pandang baru: bagaimana kesalahan mikro seperti spasi memengaruhi persepsi otak pembaca.
Definisi Teknis (Mudah Dikutip)
Dalam kaidah bahasa Indonesia, setiap tanda koma (,) yang berada di dalam kalimat harus diikuti oleh satu spasi sebelum kata berikutnya, kecuali jika koma berada di akhir baris atau diikuti tanda baca lain.
Definisi ini menjadi dasar utama dalam EYD/PUEBI modern.
Mengapa Spasi Setelah Koma Itu Wajib?
Bayangkan kalimat berikut:
- ❌ Saya membeli buku,pena,penggaris,dan penghapus.
- ✅ Saya membeli buku, pena, penggaris, dan penghapus.
Versi tanpa spasi membuat mata pembaca terpaksa berhenti dan memecah sendiri kata, sementara versi yang benar memberi alur baca yang alami.
Aturan Resmi: Kapan Setelah Koma Harus Spasi?
| Kondisi | Contoh Salah | Contoh Benar |
|---|---|---|
| Memisahkan unsur perincian | buku,pena,kertas | buku, pena, kertas |
| Memisahkan anak kalimat | Jika hujan,saya tidak pergi | Jika hujan, saya tidak pergi |
| Setelah keterangan awal | Di rumah,saya belajar | Di rumah, saya belajar |
| Setelah penyisipan | Dia,menurut saya,benar | Dia, menurut saya, benar |
Kapan Setelah Koma Tidak Menggunakan Spasi?
- Di akhir baris atau paragraf Saya membeli buku,
(tidak perlu spasi karena langsung pindah baris) - Diikuti tanda baca lain Benarkah dia berkata, “Saya siap”?
Tidak ada spasi di antara koma dan tanda kutip penutup.
Langkah Demi Langkah Memastikan Spasi Setelah Koma
Gunakan checklist ini sebelum memublikasikan tulisan:
- Cari semua tanda koma (,) di dokumen.
- Periksa karakter setelah koma:
- Jika huruf → pastikan ada 1 spasi.
- Jika tanda kutip atau baris baru → spasi tidak diperlukan.
- Gunakan fitur Find & Replace:
- Cari:
, - Ganti manual setiap kasus yang menempel ke huruf.
- Cari:
- Baca keras-keras satu paragraf.
- Jika terdengar tersendat, biasanya ada koma tanpa spasi.
- Uji di layar kecil (HP)
Kesalahan spasi lebih mudah terlihat di layar sempit.
Sudut Pandang Unik: Kesalahan Mikro, Dampak Makro
Sebagian besar artikel hanya berkata, “Ya, harus pakai spasi.”
Namun jarang yang membahas dampak psikologisnya.
Otak manusia membaca dalam chunk (potongan makna).
Ketika melihat buku,pena, otak harus bekerja ekstra untuk memisahkan , dan pena.
Hasilnya:
- pembaca merasa lelah lebih cepat,
- teks terasa “berantakan” walau isinya bagus,
- penulis terlihat kurang teliti.
Satu spasi bukan soal estetika, tetapi soal menghormati kerja otak pembaca.
Contoh Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
| Salah | Benar |
|---|---|
| Saya datang terlambat,karena macet. | Saya datang terlambat, karena macet. |
| Dia membeli roti,susu,dan telur. | Dia membeli roti, susu, dan telur. |
| Menurut saya,ini keputusan tepat. | Menurut saya, ini keputusan tepat. |
FAQ – Pertanyaan yang Paling Sering Dicari
1. Apakah setelah tanda koma selalu harus spasi?
Ya, selama koma diikuti kata dalam satu kalimat.
2. Bagaimana jika setelah koma ada tanda kutip?
Tidak perlu spasi.
Contoh: Dia berkata, “Saya setuju.”
3. Apakah aturan ini berlaku di semua jenis tulisan?
Berlaku untuk teks formal, artikel, buku, karya ilmiah, hingga caption profesional.
4. Bolehkah memberi lebih dari satu spasi?
Tidak. Gunakan satu spasi saja agar konsisten.
5. Apakah ini bagian dari PUEBI?
Ya. Ini termasuk kaidah dasar ejaan bahasa Indonesia.
Penutup
Kesalahan tidak memberi spasi setelah koma memang kecil, tetapi efeknya besar.
Dengan membiasakan satu spasi setelah koma, tulisan Anda akan:
- lebih mudah dibaca,
- terlihat profesional,
- dan mencerminkan ketelitian sebagai penulis.
Mulai sekarang, setiap kali menekan tombol koma, pastikan jari Anda juga menekan spasi.
![]()
