Pernahkah Anda membaca puisi atau novel dan merasa ada makna lebih dalam yang tersembunyi di balik kata-kata? Anda mungkin telah menyentuh dunia analisis metafora sastra. Artikel ketiga dalam seri pemahaman gaya bahasa kiasan ini akan membawa Anda melampaui penciptaan menuju interpretasi.
Kita akan mempelajari bagaimana metafora adalah jantung dari banyak karya sastra, dan bagaimana ahli menganalisisnya untuk mengungkap lapisan makna, ideologi, bahkan kritik sosial.
Jika artikel sebelumnya fokus pada jenis dan pembuatan metafora, artikel ini akan membekali Anda dengan kerangka analisis untuk “membaca antara baris” seperti seorang kritikus sastra. Cocok untuk pelajar, mahasiswa, atau siapa pun yang ingin mengapresiasi sastra lebih dalam.
Dari Pembaca Pasif menjadi Aktif: Mengapa Analisis Metafora Penting?
Metafora dalam sastra bukan sekadar perhiasan bahasa. Mereka adalah:
- Alat Kompresi Makna: Menyampaikan ide kompleks dalam imej yang padat.
- Jendela ke Dunia Pengarang: Mengungkap cara pandang, kecemasan, atau harapan penulis.
- Cermin Budaya dan Zaman: Metafora yang dominan dalam suatu periode mencerminkan nilai-nilai masyarakat saat itu.
Dengan menganalisis metafora, Anda berhenti menjadi konsumen pasif dan menjadi mitra dialog dengan teks.
Kerangka Analisis Metafora Sastra: 4 Langkah Sistematis
Berikut pendekatan terstruktur untuk mengupas metafora dalam puisi, prosa, atau drama.
Langkah 1: Identifikasi dan Kategorisasi
Temukan semua metafora dalam teks. Kelompokkan berdasarkan source domain (asal citra)-nya:
- Alam (badai, akar, benih, matahari terbenam)
- Peperangan (menyerang, bertahan, senjata)
- Perjalanan (jalan, simpangan, tersesat)
- Kesehatan/Penyakit (luka, racun, obat)
- Binatang (serigala, domba, burung terbang)
Contoh: Dalam puisi tentang cinta yang patah, Anda mungkin menemukan metafora dari domain bangunan runtuh, tumbuhan layu, dan musim dingin.
Langkah 2: Analisis Pemetaan Konseptual
Tanyakan: Sifat apa dari source domain yang dipetakan ke target domain (subjek puisi/cerita)?
Ambil contoh metafora “cinta adalah perang”:
- Prajurit → kekasih
- Senjata → kata-kata, pesona
- Medan perang → hubungan
- Kemenangan → memiliki hati sang kekasih
- Kekalahan → patah hati
Analisis ini mengungkap bagaimana pengarang memandang cinta sebagai sesuatu yang kompetitif, taktis, dan penuh konflik.
Langkah 3: Evaluasi Kohesi dan Konsistensi
Apakah metafora-metafora dalam teks saling mendukung atau bertabrakan?
- Extended Metaphor yang konsisten memperkuat tema.
- Metafora Campuran yang tidak disengaja dapat mengacaukan pesan (kecuali jika disengaja untuk efek tertentu).
- Perhatikan pergeseran metafora—perubahan dari satu domain ke domain lain bisa menandakan perkembangan emosi atau plot.
Langkah 4: Kontekstualisasi Historis-Budaya
Metafora tidak lahir dari ruang hampa. Tanyakan:
- Apa makna kultural dari source domain pada zaman karya ditulis?
- Apa konvensi sastra yang berlaku? (misal: metafora “mawar” untuk kecantikan dalam soneta Elizabethan).
- Apakah ada subversi terhadap metafora yang biasa? (misal: menggunakan “mawar berduri” untuk menunjukkan bahaya di balik kecantikan).
Studi Kasus 1: Analisis Metafora dalam Puisi “Aku” Chairil Anwar
“Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang”
- Identifikasi: Metafora utama: “Aku ini binatang jalang”.
- Analisis Pemetaan:
- Binatang jalang → liar, tidak terikat, hidup dari insting, ditakuti/ditolak masyarakat.
- Dari kumpulannya terbuang → terasing, bukan bagian dari “kawanan” (masyarakat normatif).
- Kohesi: Metafora ini konsisten dengan nada seluruh puisi yang menolak ratapan dan sentimentalitas (“tak perlu sedu sedan”).
- Kontekstualisasi: Ditulis di masa peralihan (1943), metafora “binatang jalang” merepresentasikan semangat individualistik, pemberontakan terhadap kemapanan, dan pergolakan batin generasi muda di tengah kekacauan zaman. Bukan binatang buas yang perkasa, melainkan jalang—liar tapi mungkin juga terluka dan tersisih.
Studi Kasus 2: Metafora Arsitektur dalam Novel “Rumah Kaca” Pramoedya
Pramoedya sering menggunakan metafora bangunan, rumah, dan penjara.
- “Rumah Kaca” itu sendiri adalah metafora kompleks untuk sistem kolonial yang mengawasi, mencatat, dan mengontrol setiap gerak (seperti rumah kaca tempat tanaman dipantau).
- Analisis: Metafora ini memetakan sifat transparansi paksa, isolasi, dan manipulasi kondisi pertumbuhan dari sistem kolonial ke dalam ranah politik. Sangat konsisten dan berkembang sepanjang novel.
Perbedaan Metafora dan Simile dalam Analisis Sastra
Dalam analisis tingkat lanjut, pilihan antara metafora dan simile sangat signifikan:
- Metafora langsung (“Time is a thief”) menciptakan identitas yang tak terbantahkan. Dalam analisis, ini menunjukkan kepastian pandangan pengarang.
- Simile (“Time is like a thief”) menyisakan jarak dan kesadaran akan perbandingan. Mungkin menunjukkan keraguan, kerendahan hati, atau keinginan untuk menjelaskan.
Jebakan dalam Menganalisis Metafora (dan Cara Menghindarinya)
- Overinterpretasi (Mencari yang Tidak Ada): Tidak setiap kata adalah metafora. Kadang, kata-kata bermakna harfiah. Uji dengan konteks dan konsistensi.
- Mengabaikan Konteks: Memaknai metafora “api” dalam puisi cinta tahun 2020 sama dengan puisi tahun 1920 adalah keliru. Makna budaya berubah.
- Menganggap Semua Metafora adalah Pesan Pengarang: Narator atau karakter yang menggunakan metafora belum tentu mewakili suara pengarang. Analisislah dari sudut pandang siapa metafora itu diucapkan.
Latihan Analisis Mandiri
Ambil puisi pendek atau kutipan prosa yang dikenal (misal, dari karya Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, atau Andrea Hirata).
- Highlight semua metafora.
- Buat tabel dengan kolom: Metafora, Source Domain, Target Domain, Sifat yang Dipetakan.
- Tulis 1 paragraf tentang bagaimana metafora-metafora ini bekerja sama membangun tema utama karya.
- Ajukan 1 pertanyaan tentang bagaimana metafora mencerminkan konteks budaya karya tersebut.
Checklist Analisis Metafora untuk Pemula
- [ ] Saya dapat membedakan metafora dari bahasa kiasan lainnya dalam teks.
- [ ] Saya dapat mengidentifikasi source dan target domain dari metafora utama.
- [ ] Saya dapat menjelaskan setidaknya dua sifat yang dipetakan dari source ke target.
- [ ] Saya dapat melihat apakah metafora dalam teks saling mendukung atau tidak.
- [ ] Saya mempertimbangkan konteks zaman dan budaya saat menafsirkan.
Kesimpulan: Metafora sebagai DNA Karya Sastra
Menganalisis metafora adalah seperti menjadi detektif linguistik. Anda melacak petunjuk, menghubungkan titik-titik, dan mengungkap struktur makna yang mendasari sebuah karya. Keterampilan ini tidak hanya memperkaya apresiasi sastra, tetapi juga melatih kepekaan bahasa dan berpikir kritis yang dapat diterapkan dalam “membaca” dunia—dari iklan hingga pidato politik.
Metafora adalah DNA karya sastra: kode genetik yang menentukan karakter, tema, dan pesannya. Dengan mempelajari kode ini, Anda tidak lagi hanya melihat fenotipe (kata-kata di permukaan), tetapi memahami genotype (makna yang membentuknya).
Peralihan ke Level Ahli: Setelah menguasai analisis metafora tunggal, Anda dapat melanjutkan ke analisis jaringan metafora dalam satu karya, atau metafora kontrastif antara dua pengarang dengan ideologi berbeda. Inilah yang dilakukan kritikus sastra profesional, dan kini Anda telah memiliki pondasi untuk memulainya. Selamat menganalisis!
![]()
