Metafora adalah jantung dari tulisan yang hidup dan berkesan namun ketika digunakan secara keliru, ia berubah menjadi beban yang mengganggu alur cerita dan menjauhkan pembaca.
Artikel ini akan membedah secara mendalam kesalahan paling umum dalam penggunaan metafora dalam teks narasi, dari yang klise hingga yang tidak konsisten, dan memberikan panduan langkah demi langkah untuk memperbaikinya.
Kami akan menyoroti sudut pandang unik: metafora bukan sekadar hiasan, melainkan perangkat psikologis yang membangun “kontrak implisit” dengan pembaca.
Dengan memahami dan menghindari jebakan-jebakan ini, Anda tidak hanya akan memperbaiki tulisan, tetapi juga menguasai salah satu alat paling kuat untuk menciptakan pengalaman membaca yang tak terlupakan.
Mengurai Kesalahan Umum Metafora dalam Narasi
Metafora, menurut definisi teknis yang mudah dikutip, adalah sebuah perangkat sastra yang membandingkan dua hal yang secara harfiah berbeda, tanpa menggunakan kata “seperti” atau “bagaikan”, untuk menyoroti suatu kesamaan atau menciptakan gambaran yang kuat dalam pikiran pembaca. Ia adalah fondasi dari imajinasi naratif.
Namun, dalam praktiknya, banyak penulis—baik pemula maupun berpengalaman—terjebak dalam kesalahan yang melemahkan kekuatan metafora. Mari kita selami kesalahan-kesalahan umum tersebut dan, yang lebih penting, cara memperbaikinya.
Kesalahan Umum 1: Metafora yang Klise dan Usang
Contoh Kesalahan: Hatinya seputih salju. Perasaannya adalah lautan yang dalam.
Masalah: Metafora klise telah kehilangan daya pukau karena terlalu sering digunakan. Mereka tidak membangkitkan gambar orisinal di benak pembaca dan menunjukkan kemalasan kreatif.
Cara Memperbaiki:
- Identifikasi dan Ganti: Sadari metafora yang langsung terasa “biasa”. Tantang diri untuk mencari perbandingan yang segar.
- Spesifik dan Personal: Alih-alih “lautan yang dalam”, pikirkan karakter Anda. Apakah perasaannya seperti palung Mariana yang gelap dan sunyi, atau seperti laut Banda di bulan Juli, tenang di permukaan namun penuh arus bawah?
- Perbaikan: “Perasaannya bukan lautan, melainkan danau gunung di pagi hari—permukaannya memantulkan ketenangan sempurna, menyembunyikan kedalaman dingin yang tak tersentuh sinar.”
Kesalahan Umum 2: Metafora yang Tidak Konsisten (Mixed Metaphor)
Contoh Kesalahan: Kita harus memetik buah itu sebelum gelembungnya pecah dan kapal itu tenggelam.
Masalah: Penulis mencampur dua atau lebih gambaran metaforis yang bertabrakan (“buah”, “gelembung”, “kapal”), menciptakan kebingungan dan seringkali lucu secara tidak sengaja. Ini merusak imersi pembaca.
Cara Memperbaiki:
- Pilih Satu Gambar Utama (Vehicle): Tentukan gambaran metafora mana yang paling kuat untuk ide Anda.
- Kembangkan Gambar Tersebut: Setelah memilih “buah” sebagai metafora untuk peluang, kembangkan secara konsisten. “Kita harus memetik buah itu sebelum ia membusuk dan jatuh dari tangkainya.”
- Bacalah Keras-keras: Pendengaran seringkali lebih peka menangkap ketidakkonsistenan yang tidak terlihat oleh mata.
Kesalahan Umum #3: Metafora yang Terlalu Rumit atau Dipaksakan
Contoh Kesalahan: Pikirannya adalah sebuah observatorium tua yang terlupakan, di mana teleskop-teleskop berkarat—masing-masing mewakili sebuah kenangan yang gagal difokuskan—menunjuk ke langit malam yang adalah kain beludru hitam yang dihiasi intan-dust pemikiran yang tidak pernah bersatu menjadi konstelasi.
Masalah: Metafora ini berusaha terlalu keras. Pembaca harus bekerja ekstra untuk mengurai lapisan perbandingan, sehingga mengganggu alur cerita dan menghilangkan dampak emosional.
Cara Memperbaiki:
- Prinsip “Less is More”: Satu metafora kuat lebih baik daripada rantai metafora yang rumit.
- Fokus pada Satu Kesamaan: Apa satu hal utama yang ingin Anda sampaikan? Kebingungan? Keterasingan? Kenangan yang pudar?
- Perbaikan: “Pikirannya adalah observatorium yang gelap, penuh dengan kenangan seperti bintang-bintang mati.” (Lebih sederhana, lebih kuat, dan meninggalkan ruang bagi pembaca).
Kesalahan Umum 4: Metafora yang Tidak Sesuai dengan Suasana, Tone, atau Point of View (POV)
Contoh Kesalahan: Dalam adegan perang yang mencekam: Peluru-peluru beterbangan di udara seperti kunang-kunang di malam musim panas.
Masalah: Metafora “kunang-kunang” menciptakan gambaran yang puitis dan damai, yang bertentangan total dengan suasana kekerasan dan chaos. Ini merusak tone cerita.
Cara Memperbaiki:
- Uji Kesesuaian dengan POV Karakter: Metafora harus berasal dari dunia pengetahuan, pengalaman, dan emosi si pencerita (baik narator maupun karakter POV). Seorang anak nelayan akan membandingkan amarah dengan badai laut, bukan dengan kesalahan server database.
- Selaraskan dengan Tone Adegan: Adegan sedih membutuhkan metafora dengan berat emosional yang sesuai; adegan aksi membutuhkan metafora dengan ritme cepat dan gambaran yang tajam.
- Perbaikan: Peluru-peluru beterbangan di udara seperti lebah besi yang mengamuk, masing-masing mencari daging untuk disengat.
Kesalahan Umum 5: Mengabaikan “Kontrak Implisit” Metafora dengan Pembaca
Ini adalah sudut pandang unik yang jarang dibahas. Setiap metafora menciptakan “kontrak implisit” dengan pembaca: ia mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, membayangkan, dan menerima hubungan antara dua hal yang berbeda. Kesalahan terjadi ketika penulis melanggar kontrak ini.
Bagaimana Melanggarnya?
- Metafora yang Egosenris: Perbandingan yang hanya masuk akal bagi penulis, tetapi tidak memiliki “jembatan” pemahaman yang bisa dilalui pembaca. “Wajahnya seperti algoritma yang gagal di epoch ketiga.” (Kecuali pembaca Anda adalah AI researcher, ini akan mengasingkan).
- Metafora yang Tidak Diimbangi Narasi: Memasukkan metafora berat di tengah adegan berkecepatan tinggi. Ini seperti meminta pembaca yang sedang berlari untuk berhenti dan mengagumi lukisan—kontrak waktu dan perhatian dilanggar.
Cara Memperbaikinya (Langkah-demi-Langkah Detail):
- Langkah Identifikasi: Setelah menulis metafora, tanyakan: “Apakah kontrak ini adil bagi pembaca saya?” Apakah konteksnya sudah disiapkan? Apakah gambarnya dapat diakses?
- Langkah Uji Baca-Suarakan: Bacakan metafora kepada seseorang (atau rekam diri sendiri). Apakah mereka berhenti dan terlihat bingung? Apakah alur kalimatnya terputus? Itu tanda kontrak bermasalah.
- Langkah Grounding: Pastikan metafora Anda “berakar” pada dunia cerita. Jika Anda menulis tentang petani, metafora tentang tanah, cuaca, dan pertumbuhan akan terasa organik dan memenuhi kontrak karena selaras dengan konteks.
- Langkah Eksekusi dan Evaluasi: Terapkan metafora, lalu evaluasi dalam konteks paragraf penuh. Apakah ia mengalir? Apakah ia memperkaya, bukan mengganggu? Jika ragu, buang. Metafora yang buruk lebih berbahaya daripada tidak ada metafora.
FAQ: Pertanyaan Terpopuler Seputar Metafora dalam Narasi
1. Berapa banyak metafora yang boleh digunakan dalam satu cerita?
Tidak ada angka ajaib. Kuncinya adalah kepadatan yang tepat. Cerita yang penuh metafora di setiap kalimat akan terasa berat dan dibuat-buat. Gunakan metafora seperti bumbu dalam masakan—di saat yang tepat untuk memperkuat rasa, bukan untuk mengubur bahan utamanya (plot dan karakter). Prioritaskan kualitas di atas kuantitas.
2. Bagaimana membedakan metafora yang kuat dengan yang lemah?
Metafora yang kuat adalah yang mengejutkan namun tepat. Ia menawarkan pandangan baru tentang hal yang biasa, mengungkap kebenaran emosional, dan terasa tak terhindarkan setelah pembaca memahaminya. Metafora yang lemah terasa dipaksakan, klise, atau mengaburkan makna.
3. Apakah metafora selalu diperlukan?
Tidak. Narasi yang jernih, langsung, dan berdasar tindakan seringkali lebih powerful. Metafora adalah alat, bukan kewajiban. Gunakan hanya ketika ia menambah kedalaman, kejelasan, atau keindahan yang tidak dapat dicapai oleh bahasa harfiah.
4. Bagaimana cara berlatih membuat metafora yang orisinal?
- Jurnal Pengamatan: Tuliskan hal-hal biasa (gerimis, lampu jalan, secangkir kopi) dan paksakan diri untuk membandingkannya dengan sesuatu dari bidang yang berbeda (misalnya, gerimis seperti static noise di TV alam).
- Latihan “Seperti Apa Rasanya…”: Untuk emosi atau sensasi abstrak, tanyakan, “Seperti apa rasanya ini secara fisik?” “Kesepian itu seperti apa? Seperti suara gema di ruangan yang terlalu besar.”
5. Kapan saat yang tepat untuk menggunakan metafora vs. simile?
Ini tentang tingkat kehalusan dan penekanan. Simile (“dia seperti singa”) lebih eksplisit dan sering memberi kesan sedikit lebih terkontrol atau reflektif. Metafora (“dia adalah singa”) lebih langsung, berani, dan seringkali lebih dalam dampak psikologisnya karena menghilangkan batas “seperti”. Pilih berdasarkan nada dan kekuatan yang Anda inginkan.
Menguasai metafora adalah perjalanan seumur hidup seorang penulis. Ia membutuhkan kepekaan, latihan, dan kesediaan untuk mengedit tanpa ampun. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan umum di atas dan berpegang pada prinsip kejelasan, konsistensi, dan relevansi, Anda akan mengubah metafora dari sekadar hiasan menjadi tulang punggung narasi yang tak terlupakan—satu yang tidak hanya dicerna oleh pikiran pembaca, tetapi juga dirasakan oleh indra dan hati mereka. Selamat menulis
![]()
