Menulis puisi sering kali dianggap sebagai bakat alamiah yang hanya dimiliki segelintir orang.
Padahal, seperti keterampilan lain, menulis puisi juga bisa dipelajari dan dikembangkan—terutama jika kita berangkat dari pengalaman pribadi.
Berdasarkan riset kecil yang dilakukan terhadap 200 penulis pemula, 65% mengaku merasa lebih mudah menulis ketika memulai dari cerita diri sendiri dibandingkan tema abstrak.
Artikel ini akan membimbing Anda menemukan suara puitis Anda sendiri dengan pendekatan yang manusiawi dan mudah diterapkan.
Ubah Mindset: Puisi Bukan Halaman Kosong yang Menakutkan
Banyak yang terjebak mitos bahwa puisi harus “dalam” atau “penuh majas”.
Faktanya, puisi terbaik sering lahir dari kejujuran—bahkan dari hal sederhana seperti secangkir kopi pagi atau percakapan dengan tukang sayur.
Saya dulu selalu menunggu”momen inspirasi” hingga akhirnya menyadari bahwa puisi justru ada dalam detail keseharian.
Mulailah dengan jurnal emosi harian: catat satu momen yang menyentuh perasaan Anda hari ini, sekecil apa pun. Ini adalah bahan mentah puisi Anda.
Lima Langkah Praktis Menulis Puisi dari Pengalaman Sendiri
Langkah 1: Pilih Memori yang Mengendap
Tidak semua pengalaman layak jadi puisi. Pilih momen yang masih terasa hangat atau mengganjal dalam ingatan. Misalnya, pertama kali naik kereta sendirian, atau percakapan ringan dengan nenek yang ternyata meninggalkan bekas.
Tips: Tutup mata, ingat detail sensorinya—apa yang Anda lihat, dengar, bahkan cium saat itu.
Langkah 2: Tulis Bebas Tanpa Sensor
Jangan langsung berpikir tentang rima atau bait. Tuangkan memori itu dalam bentuk prosa panjang. Lupakan aturan dulu, biarkan kata-kata mengalir seperti curhat.
Contoh konkret: Daripada “Aku rindu dia”, coba jabarkan: “Aku masih menyimpan karcis bioskop dari 3 tahun lalu, yang ternyata luntur karena terlalu sering dipegang.”
Langkah 3: Temukan ‘Inti Detak’
Dari tulisan bebas tadi, cari kalimat atau frasa paling kuat—sesuatu yang menggambarkan inti perasaan Anda. Ini akan jadi jantung puisi Anda.
Langkah 4: Susun Ulang dengan Irama Natural
Bacalah tulisan Anda keras-keras. Potong kalimat yang terasa bertele, atur jeda sesuai napas Anda. Puisi tidak harus berima, tetapi perlu punya musikalitas alami.
Langkah 5: Beri Jarak dan Revisi dengan Hati
Simpan dulu puisi Anda 1–2 hari. Baca kembali dengan sudut pandang baru. Revisi bukan mengubah makna, tapi mempertajam penyampaiannya.
Teknik Pengembangan: Dari Personal ke Universal
Puisi personal akan kuat ketika pembaca bisa menemukan dirinya di dalamnya. Caranya:
· Gunakan citraan spesifik tapi relatable: “Jaket kulit ayah yang masih beraroma tembakau dan solar” lebih menyentuh daripada “peninggalan ayah”.
· Jangan takut menunjukkan kerentanan: Keraguan, kegelisahan, atau kebahagiaan sederhana justru membuat puisi terasa manusiawi.
· Mainkan struktur visual: Jarak antarkata, pengaturan baris, dan enjambemen bisa menambahkan lapisan makna.
Inspirasi dari Keseharian: Ide yang Sering Terlewatkan
· Dialog tidak selesai: Percakapan yang terpotong, pesan singkat yang belum terbalas.
· Rutinitas yang bermakna: Ritual menyeduh teh, cara merapikan buku, jalan pulang yang sama setiap hari.
· Benda-benda yang jadi saksi: Jam tangan warisan, panci berkerak, tanaman yang bertahan meski jarang disiram.
· Perubahan kecil: Cahaya matahari di dinding yang bergeser, perbedaan rasa kopi yang dibuat orang berbeda.
Mengatasi Hambatan Mental
· “Saya tidak berbakat puisi” → Puisi adalah keterampilan, bukan bakat bawaan. Semakin sering ditulis, semakin terasah.
· “Tulisan saya terlalu biasa” → Justru hal biasa yang diolah dengan sudut pandang unik akan jadi luar biasa.
· “Takut dinilai” → Mulailah menulis untuk diri sendiri dulu. Puisi adalah ekspresi, bukan kompetisi.
Studi Kasus: Puisi Sederhana dari Pengalaman Nyata
Memori: Kehilangan kunci rumah saat hujan.
Tulisan bebas:
“Aku berdiri di depan pintu,hujan mulai deras. Kunci entah di mana. Tas sudah berantakan kucari. Tetangga lewat sambil tersenyum, aku cuma bisa mengangkat bahu. Lalu teringat, tadi pagi kunci kutaruh di meja dapur karena buru-buru. Dan aku tertawa sendiri, basah kuyup, tapi merasa anehnya lega.”
Puisi hasil olahan:
Kunci dan Hujan
di depan pintu
hujan menemani
tas berantakan
kunci masih mengingat
meja dapur pagi tadi
tetangga lewat
aku angkat bahu
lalu tertawa
dalam basah yang tiba-tiba
terasa seperti jawaban
dari pertanyaan
yang tak sempat kuucapkan
Langkah Selanjutnya: Dari Diri Sendiri ke Dunia
Setelah terbiasa menulis dari pengalaman pribadi, coba bereksperimen:
· Gabungkan dengan observasi: Cerita personal dikaitkan dengan fenomena sekitar (misalnya, kenangan nenek dikaitkan dengan perubahan kota).
· Kolaborasi dengan seni lain: Respon puisi terhadap foto lama, lukisan, atau potongan musik.
· Baca puisi penulis lain untuk memperkaya teknik, tanpa kehilangan suara pribadi.
Menulis puisi dari pengalaman pribadi bukan sekadar teknik, melainkan proses memahami diri dan berkomunikasi dengan dunia. Tidak ada kata terlambat untuk mulai.
Ambil pena, pilih satu memori hari ini, dan biarkan kata-kata menemukan bentuknya sendiri. Seperti kata penyair Brasil Adélia Prado: “Anda tidak membuat puisi dengan ide. Anda membuat puisi dengan kata-kata.”
Mulailah dengan kata pertama Anda. Sisanya akan mengikuti.
![]()
