Jenis-Jenis Metafora dan Cara Menggunakannya

7 Min Read
Bakat vs Kerja Keras: Mitos Terbesar dalam Menulis Novel yang Harus Anda Tahu (Ilustrasi)

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa metafora tertentu terasa begitu kuat dan tak terlupakan, sementara yang lain terasa klise dan hambar? Jika artikel sebelumnya menjelaskan pengertian metafora dan contohnya untuk pemula, kini saatnya menyelami lebih dalam.

Memahami jenis-jenis metafora beserta teknik penggunaannya adalah kunci untuk mengubah metafora dari sekadar hiasan bahasa menjadi alat komunikasi yang presisi dan penuh daya.

Metafora bukanlah konsep tunggal. Layaknya warna, ia memiliki spektrum dan nuansa tersendiri. Artikel ini akan membawa Anda melampaui definisi dasar, mengeksplorasi berbagai tipe metafora, dan memberikan panduan praktis untuk menerapkannya dalam tulisan Anda—dari esai akademis hingga konten kreatif sehari-hari.

Mengapa Penting Mengenal Jenis-Jenis Metafora?

Setelah memahami bahwa metafora adalah penyamaan langsung “A adalah B”, langkah berikutnya adalah mengenali variasi bentuknya. Pengetahuan ini memungkinkan Anda untuk:

  • Memilih metafora yang paling tepat untuk konteks dan pesan.
  • Menghindari metafora yang klise dan basi.
  • Membangun kiasan yang konsisten dan powerful dalam tulisan panjang.
  • Menganalisis karya sastra atau pidato dengan lebih kritis.

5 Jenis Metafora yang Perlu Anda Ketahui

1. Metafora Absolut (Dead Metaphor)

Metafora yang sudah begitu umum digunakan sehingga makna kiasannya diterima sebagai makna harfiah baru. Pembaca sering lupa bahwa ini adalah gaya bahasa kiasan.

  • Contoh: “Kaki meja”, “mulut sungai”, “daftar isi”.
  • Cara Pakai: Berguna untuk komunikasi sehari-hari, tetapi hindari dalam karya kreatif jika ingin menciptakan kesan segar.

2. Metafora Implisit (Implied Metaphor)

Metafora ini tidak secara eksplisit menyatakan perbandingan, tetapi menyiratkannya melalui kata kerja, sifat, atau frasa terkait.

  • Contoh: “Dia menerkam setiap peluang bisnis.” (Menyamakan “dia” dengan hewan buas, tanpa menyebut hewannya).
  • Contoh Lain: “Pikirannya berkeliaran ke masa lalu.” (Menyamakan “pikiran” dengan makhluk yang bisa berkeliaran).
  • Kelebihan: Lebih halus dan elegan, memicu pembaca untuk aktif menafsirkan.

3. Metafora Ekstensi (Extended Metaphor)

Ini adalah mahkota dari seni bermetafora. Satu konsep metafora dikembangkan secara konsisten di seluruh paragraf, bait puisi, atau bahkan seluruh karya.

  • Contoh dalam Puisi: Dalam puisi “Das Boot” karya Sapardi Djoko Damono, perjalanan hidup terus-menerus diibaratkan sebagai perahu yang berlayar, menghadapi badai, dan mencari pantai.
  • Contoh dalam Pidato: “Pendidikan adalah kunci yang membuka pintu kebodohan. Kunci itu harus ditempa dengan disiplin, diasah dengan ketekunan, dan digunakan secara tepat untuk membuka gembok-gembok kesempatan.”
  • Fungsi Metafora dalam teks jenis ini adalah menciptakan kohesi, kedalaman, dan tema yang kuat.

4. Metafora Campuran (Mixed Metaphor)

HATI-HATI dengan jenis ini! Metafora campuran terjadi ketika dua atau lebih metafora yang tidak konsisten digabungkan, seringkali menghasilkan makna yang kacau dan lucu (biasanya tanpa disengaja).

  • Contoh Keliru: “Kita harus menghadapi musik dan membakar jembatan saat ini.” (Metafora “face the music” dan “burn bridges” berasal dari citra yang bertentangan).
  • Kapan Digunakan? Hanya jika disengaja untuk efek komedi atau menggambarkan kebingungan seorang karakter.

5. Metafora Visual (Visual Metaphor)

Metafora yang diwujudkan dalam gambar, desain, atau film. Sangat kuat dalam iklan, infografis, dan media visual.

  • Contoh: Logo Apple (apel tergigit) adalah metafora visual untuk pengetahuan (merujuk pada kisah Adam-Hawa) dan teknologi yang “tergigit” atau mudah diakses.
  • Contoh Lain: Foto seseorang yang terbelenggu oleh rantai berbentuk like dan notifikasi media sosial.

Teknik Membuat Metafora yang “Nyeni” dan Tidak Klise

Berikut langkah sistematis untuk menciptakan metafora berkualitas tinggi:

  1. Temukan Persamaan yang Tidak Terduga
    Jauhi pasangan yang sudah basi (“hati emas”, “bintang kelas”). Cari persamaan dari dunia yang berbeda sama sekali.
    • Biasa: “Dia sangat setia.”
    • Lebih Baik: “Kesetiaannya adalah algoritma yang sudah terprogram dalam DNA-nya.” (Menggabungkan konsep biologi dan teknologi).
  2. Gunakan Indra (Imagery)
    Libatkan penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap untuk membuat metafora hidup.
    • “Diamnya bukanlah keheningan, melainkan tekanan atmosfer yang pekat sebelum badai.”
  3. Ujilah dengan “Apakah Ini Bekerja?”
    • Apakah logis secara kiasan? (Apakah sifat B benar-benar cocok menggambarkan A?)
    • Apakah sesuai dengan nada dan konteks tulisan? (Metafora ilmiah untuk tulisan akademik, metafora organik untuk tulisan puitis).
    • Apakah sudah jelas, atau terlalu abstrak? Metafora harus memperjelas, bukan mengaburkan.

Analisis Singkat: Mematahkan Metafora dalam Teks

Mari praktekkan dengan menganalisis kutipan terkenal Pramoedya Ananta Toer:

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

Di sini, “dalam pikiran” dan “dalam perbuatan” bisa dibaca sebagai metafora spasial. Keadilan tidak memiliki lokasi fisik, tetapi diandaikan sebagai ruang (dalam pikiran, dalam perbuatan). Metafora ini membuat konsep abstrak (keadilan) menjadi nyata dan memiliki “tempat” untuk diterapkan.

Perbedaan Metafora dan Simile dalam Penggunaan Lanjutan

Jika di tingkat dasar kita bedakan dari ada/tidaknya kata “seperti”, di tingkat lanjutan pilihannya adalah soal efek psikologis:

  • Simile (dengan “seperti”): Memberi jarak dan kesadaran bahwa ini adalah perbandingan. “Cintanya seperti api.” Pembaca diajak mengamati persamaan.
  • Metafora (tanpa “seperti”): Menciptakan identifikasi langsung dan pengalaman yang lebih imersif. “Cintanya adalah api.” Pembaca langsung merasakan kehangatan atau bahayanya.

Checklist Lanjutan: Dari Pemula ke Mahir

✔ Saya tidak lagi mencampur metafora yang tidak konsisten.
✔ Saya bisa mengidentifikasi metafora implisit dalam teks yang saya baca.
✔ Saya berani mengembangkan satu ide menjadi metafora ekstensi dalam satu paragraf.
✔ Saya mencari persamaan dari bidang di luar topik saya untuk mendapatkan metafora yang segar.
✔ Saya menggunakan metafora dengan sengaja untuk mencapai efek spesifik, bukan sekadar mengisi kalimat.

Kesimpulan: Metafora adalah Otot Bahasa yang Perlu Dikembangkan

Metafora, dalam berbagai jenisnya, adalah otot kreatif dalam bahasa. Semakin sering Anda melatihnya—dengan membaca kritis, mengamati, dan berani bereksperimen—semakin kuat dan lincah gaya komunikasi Anda.

Mulailah dengan mengoleksi metafora menarik dari bacaan favorit, coba urai jenisnya, lalu tiru strukturnya dengan konten Anda sendiri. Seperti seorang pandai besi yang menempa logam, Anda sedang menempa makna dan menajamkan pesan.

Loading

Share This Article