Membangun Kisah Islami yang Relevan untuk Pembaca Masa Kini

8 Min Read
Membangun Kisah Islami yang Relevan untuk Pembaca Masa Kini (Ilustrasi)

Mengapa Kisah Islami Perlu Bernapas Zaman?

Dalam dunia yang dipenuhi narasi instan dan konten digital, kisah Islami memiliki peluang sekaligus tantangan besar. Pembaca masa kini—yang terhubung secara global, kritis, dan haus akan cerita yang meaningful—mencari lebih dari sekadar dakwah yang kaku. Mereka merindukan kisah yang menyentuh jiwa, menggelitik pikiran, dan merefleksikan realitas mereka, tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam.

Artikel ini dirancang sebagai panduan komprehensif bagi penulis, pendongeng, dan kreator konten untuk merajut narasi Islami yang tidak hanya autentik, tetapi juga powerful dan relevan.

Apa Itu “Kisah Islami yang Relevan”?

Kisah Islami yang Relevan adalah karya naratif (fiksi atau non-fiksi) yang menggunakan prinsip dan nilai universal Islam sebagai fondasi moral dan spiritual, yang diekspresikan melalui karakter, konflik, dan tema yang resonan dengan pengalaman, keresahan, dan bahasa budaya pembaca kontemporer, tanpa mendikotomikan antara identitas keislaman dan realitas kekinian.

Singkatnya: Nilai Islami abadi, dikemas dalam konteks dan ekspresi masa kini.

Langkah demi Langkah Membangun Kisah Islami yang Relevan

Langkah 1: Temukan ‘Why’ yang Mendalam (Niat dan Tema)

Jangan mulai dengan “ingin mengajarkan”. Mulailah dengan “ingin berbagi pengalaman manusia”.

  • Tanyakan pada diri sendiri: Isu manusia universal apa (keraguan, cinta, keadilan, pencarian jati diri) yang ingin saya angkat?
  • Kaitkan dengan Nilai Islam: Nilai apa (contoh: tawakal, syukur, adil, hikmah) yang secara organik akan menjadi solusi atau pencerahan bagi konflik tersebut?
  • Contoh: Alih-alih “kisah tentang pentingnya sholat tahajud”, gali menjadi “kisah seorang pemuda yang bergumul dengan kecemasan eksistensial dan menemukan keheningan serta kejernihan dalam momen-momen sunyi di tengah malam.”

Langkah 2: Bangun Karakter yang ‘Human’, Bukan Sekadar Simbol

Pembaca masa kini menyukai karakter yang kompleks dan dapat dipercaya.

  • Lawan Stereotip: Tokoh ustaz boleh saja bergumul dengan marah, tokoh hijaber bisa passion-nya di bidang mekanik.
  • Berikan Konflik Internal: Keimanan yang diuji, keraguan yang diperjuangkan, pilihan sulit antara yang halal dan yang mudah. Ini menunjukkan keimanan sebagai sebuah perjalanan, bukan titik akhir.
  • Bahasa dan Ekspresi Kontemporer: Dialog harus natural. Mereka bisa menggunakan bahasa gaul, referensi budaya pop, dan humor yang sesuai.

Langkah 3: Setting yang Terasa Nyata dan ‘Lived-in’

Kisah Islami tidak harus terjadi di Timur Tengah abad ke-7 atau desa tradisional.

  • Konteks Modern: Kampus, startup, rumah sakit, media sosial, komunitas online.
  • Integrasikan Ritual dengan Alur: Perlihatkan bagaimana ibadah (sholat, puasa, baca Quran) menjadi bagian dari ritme hidup karakter, bukan adegan terpisah yang dipaksakan. Misal, adegan negosiasi bisnis yang tegang disela oleh azan, memberikan momen refleksi bagi tokoh utama.

Langkah 4: Utamakan ‘Show, Don’t Tell’ untuk Nilai Islami

Ini adalah jantung dari relevansi. Jangan katakan “dia seorang yang sabar”. Tunjukkan.

  • Tunjukkan Konsekuensi: Tunjukkan bagaimana kesabaran itu berat dan melelahkan, tapi akhirnya membuahkan hasil yang bermakna.
  • Gunakan Konflik Etika Modern: Tantangan di tempat kerja (integrity vs. profit), dinamika pacaran dalam koridor Islam, menjaga silaturahmi di era polarisasi politik.
  • Gunakan Simbol dan Metafora: Gunakan elemen modern sebagai metafora. “Feed media sosialnya penuh curhat, tapi feed hatinya kosong dari dzikir.”

Langkah 5: Struktur Cerita yang Memikat (Three-Act Structure dengan Nuansa)

  • Act 1 (Permulaan): Perkenalkan karakter dan dunia mereka. Hadirkan ‘keinginan’ duniawi dan ‘kebutuhan’ spiritual mereka. Inciting Incident-nya harus relevan (misal: kena PHK, skandal keluarga, proyek besar yang gagal).
  • Act 2 (Konflik): Karakter berusaha mencapai tujuan, dihambat oleh rintangan eksternal dan internal. Di sinilah nilai Islami diuji. Midpoint bisa berupa momen pencerahan spiritual kecil.
  • Act 3 (Penyelesaian): Klimaks adalah konfrontasi terbesar, di mana karakter menerapkan pelajaran spiritualnya untuk mengatasi masalah. Resolusinya tidak harus sempurna, tetapi menunjukkan pertumbuhan dan harapan.

Langkah 6: Sunting dengan Hati dan Komunitas

  • Baca Ulang untuk ‘Kepenulisan’: Apakah alurnya menarik? Apakah dialognya hidup?
  • Baca Ulang untuk ‘Authenticity Check’: Konsultasikan dengan sumber yang kredibel untuk menghindari kesalahan fikih atau pemahaman yang keliru.
  • Uji dengan Pembaca Sasaran: Berikan pada pembaca muda yang melek media. Apakah pesannya sampai tanpa terasa menggurui?

FAQ: Pertanyaan yang Sering Dicari di Google

1. “Bagaimana cara memasukkan ayat Al-Qur’an atau hadits tanpa terasa dipaksakan?”

  • Jawaban: Jangan jadikan sebagai “kutipan terpisah”. Integrasikan ke dalam alur. Misal, tokoh utama teringat akan sebuah ayat saat melihat fenomena alam, atau seorang mentor mengutip hadits sebagai jawaban spesifik atas masalah yang sedang dibahas karakter. Kontekstual adalah kuncinya.

2. “Apakah kisah Islami boleh memasukkan unsur percintaan (romance)?”

  • Jawaban: Boleh, selama digarap dengan bijak dan sesuai koridor. Fokuskan pada ketertarikan spiritual, komitmen, saling mendukung dalam kebaikan, dan perjuangan menuju pernikahan yang halal. Hindari deskripsi fisik yang sensual dan adegan mesra eksplisit. Konflik percintaannya bisa lebih pada perbedaan prinsip, restu keluarga, atau perjalanan taubat.

3. “Bagaimana menulis karakter yang tidak sempurna (berdosa) tanpa terkesan mendukung maksiat?”

  • Jawaban: Kuncinya adalah arc (perkembangan) karakter dan konsekuensi. Tunjukkan pergolakan batinnya, akibat negatif dari pilihannya, dan yang terpenting, proses taubat atau perbaikan yang realistis. Jangan glamorkan kehidupan maksiatnya.

4. “Target pasar kisah Islami itu siapa? Apakah hanya untuk muslim yang taat?”

  • Jawaban: Sangat luas! Targetkan berdasarkan genre dan tema, bukan hanya label “Islami”. Pecinta romance akan membaca kisah Islami romance yang baik. Pecinta thriller akan tertarik pada kisah konspirasi dengan perspektif spiritual. Bahkan pembaca non-Muslim bisa tertarik jika ceritanya kuat tentang kemanusiaan.

5. “Bagaimana agar kisah Islami tidak terasa ketinggalan zaman (jadul)?”

  • Jawaban: Gunakan realitas setting, masalah, dan bahasa zaman now. Bahas isu digital, kesehatan mental, krisis ekologi, pencarian jati diri milenial/Z. Gunakan sudut pandang yang fresh, misal dari kacamata seorang ilmuwan muslim, gamer, atau aktivis lingkungan.

Tantangan Terbesar adalah Memulai. Mari Kita Wujudkan Bersama.

Menulis adalah perjalanan. Dan menulis kisah yang penuh makna sekaligus relevan adalah perjalanan yang memerlukan keberanian, ketekunan, dan komunitas yang mendukung.

Jika Anda memiliki naskah, draft, atau bahkan sekadar ide brilian tentang kisah Islami yang ingin Anda tulis dan terbitkan, KBM siap menjadi mitra Anda.

Kami tidak sekadar penerbit. Kami adalah partner pengembangan naskah yang akan bekerja sama dengan Anda untuk:

  • Mengembangkan ide hingga menjadi outline yang solid.
  • Menyunting naskah dari sisi konten, kebahasaan, dan authenticity check.
  • Mendesain kemasan yang estetis dan menarik bagi pasar modern.
  • Melakukan pemasaran yang tepat sampai ke tangan pembaca yang tepat.

Jangan biarkan kisah inspiratif hanya berhenti di pikiran atau draft yang tersimpan

Bersama, kita tidak hanya menerbitkan buku. Kita menumbuhkan peradaban, satu kisah yang relevan pada satu waktu.

Loading

Share This Article
Leave a review