Mengapa Metafora dalam Politik dan Pidato Sangat Kuat?

9 Min Read
A male in a formal outfit preaching the Holy Bible from the tribune at the altar of the church

Pernahkah Anda mendengarkan pidato politik dan merasa sangat terbakar semangat, atau justru skeptis? Bukan hanya isi pidato yang memengaruhi Anda, tetapi juga cara pesan itu dibungkus—dan metafora adalah alat pembungkus paling ampuh dalam retorika politik.

Artikel keempat dalam seri mendalam tentang gaya bahasa kiasan ini akan mengungkap bagaimana politisi menggunakan metafora adalah senjata untuk membingkai realitas, membangun dukungan, dan menggerakkan massa.

Jika artikel sebelumnya mengajarkan analisis metafora dalam sastra, artikel ini akan membawa Anda ke arena yang lebih nyata dan berdampak langsung: panggung politik. Kita akan mempelajari kerangka analisis kritis untuk “membongkar” pidato politik, memahami mekanisme persuasi, dan menjadi pemirsa yang lebih cerdas.

Mengapa Metafora Politik Begitu Kuat?

Dalam politik, metafora berfungsi sebagai pembingkai realitas (reality framing device). Metafora memaksa kita melihat situasi kompleks melalui lensa sederhana yang sudah kita pahami. Ini mengurangi beban kognitif pendengar, tetapi juga membatasi cara kita memikirkan suatu masalah.

Contoh Nyata: Sebutan “G30S/PKI” vs “Peristiwa 1965“. Keduanya merujuk pada peristiwa sejarah yang sama, tetapi membawa frame yang berbeda: yang pertama spesifik dan berkonotasi politik ideologis, yang kedua lebih netral dan kronologis.

Kerangka Analisis: 4 Lapis Makna dalam Metafora Politik

Untuk menganalisis pidato politik seperti ahli, gunakan pendekatan berlapis ini.

Lapis 1: Identifikasi dan Kategorisasi Metafora Dominan

Apa source domain (asal citra) yang paling sering digunakan?

  • Peperangan & Konflik (“perang melawan narkoba”, “bertempur untuk rakyat”)
  • Perjalanan & Arah (“jalan reformasi”, “tersesat dalam kebijakan”)
  • Keluarga & Kekerabatan (“bangsa sebagai satu keluarga”, “Ibu Pertiwi”)
  • Bangunan & Fondasi (“membangun negara”, “pondasi ekonomi yang rapuh”)
  • Penyakit & Kesehatan (“virus korupsi”, “menyuntikkan stimulus”)
  • Alam & Bencana (“gelombang krisis”, “angin perubahan”)

Tugas Analitis: Hitung frekuensi. Metafora yang diulang-ulang menandakan prioritas framing sang orator.

Lapis 2: Analisis Pemetaan Ideologis

Tanyakan: Apa yang disembunyikan dan apa yang ditonjolkan oleh metafora ini?

Ambil contoh metafora populer: “Pemerintahan yang bersih adalah rumah yang terang”.

  • Yang Ditonjolkan: Keterbukaan, kejernihan, keamanan.
  • Yang Disembunyikan: Proses “membersihkan” bisa jadi menyakitkan dan represif. Rumah juga bisa tertutup untuk orang luar.
  • Pemetaan Konseptual:
    • Pemerintah = Rumah
    • Rakyat = Penghuni
    • Korupsi = Kotoran/Kegelapan
    • Pemimpin = Kepala Keluarga yang berwenang “membersihkan”
  • Implikasi Ideologis: Metafora ini membingkai pemerintahan sebagai ruang domestik tertutup (bukan pasar terbuka atau taman publik), di mana pemimpin memiliki otoritas natural seperti orang tua.

Lapis 3: Analisis Fungsi Retorika

Apa tujuan metafora ini dalam konteks pidato?

  1. Mobilisasi (Menggerakkan): “Kita adalah pasukan garda terdepan dalam revolusi mental!” → Menciptakan identitas kolektif dan mendorong aksi.
  2. Legitimasi (Mengesahkan): “Tugas kita adalah merawat anak-anak ibu pertiwi yang terluka.” → Memberikan pembenaran moral dan kewajiban suci pada kebijakan.
  3. Deligitimasi (Mencabut legitimasi): “Kebijakan mereka adalah racun yang perlahan membunuh usaha kecil.” → Menyamakan oposisi dengan sesuatu yang berbahaya dan tak bermoral.
  4. Simplifikasi (Menyederhanakan): “Ekonomi adalah mesin yang perlu dipanaskan.” → Mengaburkan kompleksitas ekonomi global menjadi permasalahan teknis sederhana.

Lapis 4: Kontekstualisasi Historis dan Kultural

Metafora hanya efektif jika menyentuh memori kolektif pendengarnya.

  • Metafora “Reformasi” di Indonesia pasca-1998 memiliki kekuatan emosional yang tak dimiliki di negara lain, karena merujuk pada peristiwa spesifik dan harapan akan perubahan total.
  • Metafora “Nusantara” atau “Maritim” membangkitkan kebanggaan sejarah dan identitas.

Studi Kasus 1: Membongkar Metafora dalam Pidato Soekarno

**”Kita ini bangsa yang *gemah ripah loh jinawi*, *tata tentrem kerta raharja*. Tapi kita jangan sampai menjadi *macan Asia* yang hanya bisa mengaum, tetapi tidak bisa menerkam. Kita harus menjadi macan yang benar-benar hidup!”**

  1. Identifikasi: Dua metafora dominan: Kesejahteraan Agraris (“gemah ripah loh jinawi”) dan Macan Asia.
  2. Pemetaan Ideologis:
    • Gemah ripah loh jinawi → Membingkai Indonesia sebagai negeri subur dan damai (berbasis pertanian). Mengaitkan negara baru dengan nostalgia kerajaan masa lalu.
    • Macan Asia → Memetakan sifat “liar, kuat, dihormati/ditakuti” ke dalam identitas bangsa. Menolak citra negara berkembang yang pasif.
  3. Fungsi Retorika: Mobilisasi dan Legitimasi. Soekarno sedang membangun identitas nasional yang percaya diri dan agresif, sekaligus memberikan legitimasi pada kebijakan luar negeri yang konfrontatif.
  4. Kontekstualisasi: Sangat kontekstual dengan suasana revolusioner dan keinginan untuk dipandang setara di forum dunia pasca-kolonial.

Studi Kasus 2: Analisis Metafora dalam Pidato Kampanye Kontemporer

Misal, sebuah pidato yang menyebut:

“Selama lima tahun terakhir, perekonomian kita terjun bebas. Kita butuh kapten pilot yang baru, yang bisa mendaratkan pesawat ini dengan selamat, dan membawanya terbang tinggi lagi.”

  1. Kategori: Metafora Penerbangan/Pesawat.
  2. Pemetaan:
    • Negara/Negara = Pesawat
    • Situasi Ekonomi Sekarang = Sedang Jatuh/Jatuh Bebas
    • Pemerintah Saat Ini = Pilot yang Tidak Kompeten
    • Calon Pemimpin = Kapten Pilot yang Menyelamatkan
    • Rakyat = Penumpang Pasif yang Bergantung pada Pilot
  3. Fungsi: Deligitimasi pemerintah incumbent dan Legitimasi untuk calon baru. Menciptakan rasa urgensi dan ketakutan (“terjun bebas”), sekaligus harapan (“kapten baru”).
  4. Yang Disembunyikan: Kerumitan ekonomi yang melibatkan banyak aktor global dan lokal. Juga, peran aktif rakyat sebagai agen ekonomi direduksi menjadi penumpang pasif.

Perbedaan Metafora dan Simile dalam Persuasi Politik

Dalam politik, pilihannya strategis:

  • Metafora Langsung (“Korupsi adalah kanker”): Lebih keras, absolut, dan sulit dibantah. Membangun emosi kuat (ketakutan).
  • Simile (“Korupsi seperti kanker”): Sedikit lebih lembut, mengakui bahwa ini adalah perumpamaan, memberikan ruang bagi pendengar untuk menyetujui atau tidak. Sering digunakan untuk nada yang lebih “rasional”.

Latihan Analitis untuk Pemirsa yang Cerdas

Saat menonton pidato politik, tanyakan pada diri sendiri:

  1. Frame Apa? Metafora utama apa yang digunakan? (Perang? Perjalanan? Keluarga?)
  2. Penyederhanaan Apa? Aspek kompleks apa yang dihilangkan oleh metafora ini?
  3. Emosi Apa? Emosi apa yang ingin dibangkitkan? (Rasa takut? Harapan? Kemarahan? Kebanggaan?)
  4. Kepentingan Siapa? Sudut pandang siapa yang diuntungkan oleh framing ini? Siapa yang dirugikan atau dikecilkan perannya?
  5. Alternatifnya? Bagaimana jika peristiwa yang sama dibingkai dengan metafora yang berbeda? (Misal: “Gelombang pengungsi” vs “Pencari suaka yang melintasi perbatasan”).

Checklist Analisis Pidato Politik

  • [ ] Saya dapat mengidentifikasi 2-3 metafora kunci dalam pidato.
  • [ ] Saya dapat menjelaskan source domain dan pemetaan konseptualnya.
  • [ ] Saya dapat menduga fungsi retorika metafora tersebut (mobilisasi, delegitimasi, dll.).
  • [ ] Saya mempertimbangkan konteks budaya dan sejarah yang membuat metafora itu “nyambung”.
  • [ ] Saya dapat mengajukan metafora tandingan (counter-metaphor) untuk melihat isu dari sudut lain.

Kesimpulan: Menjadi Detektif Metafora di Era Informasi

Menganalisis metafora politik bukanlah sekadar latihan akademis. Ini adalah keterampilan literasi media yang kritis. Di era banjir informasi dan narasi, kemampuan untuk membedah pembingkaian bahasa adalah tameng terbaik terhadap manipulasi dan polarisasi.

Dengan menjadi detektif metafora, Anda mengambil kembali kendali atas bagaimana realitas dibentuk di benak Anda. Anda tidak lagi hanya mendengar “perang melawan korupsi”, tetapi bertanya: Siapa yang ditetapkan sebagai musuh? Apa solusi yang implisit dari metafora perang ini? Siapa yang menjadi jenderal, dan siapa yang menjadi prajurit?

Metafora politik adalah peta, dan seperti semua peta, ia menyeleksi dan menyederhanakan realitas untuk menuntun kita ke suatu tujuan. Tugas kita sebagai warga yang melek bahasa adalah untuk memeriksa peta itu, melihat siapa yang menggambarnya, dan memutuskan apakah kita ingin mengikutinya—atau menggambar rute kita sendiri.

Puncak Kecerdasan Berbahasa: Setelah menguasai analisis metafora politik, Anda telah memiliki alat untuk memahami kekuatan tersembunyi yang membentuk opini publik. Langkah akhir yang mungkin Anda minati adalah [Bagaimana Membuat Metafora yang Efektif untuk Kepemimpinan dan Komunikasi Publik], karena memahami adalah separuh jalan, mencipta adalah separuh lainnya.

Loading

Share This Article