Narasi adalah seni mengisahkan sebuah kejadian atau cerita dengan urutan waktu. Dua bentuk utama narasi yang sering digunakan dalam penulisan adalah narasi sugestif dan narasi ekspositoris. Meski sama-sama bercerita, keduanya sangat berbeda dalam tujuan, gaya bahasa, fungsi penalaran, dan efek emosional pada pembaca. Artikel ini menjelaskan secara teknis dan praktis bagaimana membedakan keduanya, mengapa pemahaman itu penting dalam penulisan efektif, serta langkah-langkah menulis masing-masing tipe. Untuk konteks penulisan konten profesional atau akademis, pemilihan narasi yang tepat dapat meningkatkan engagement pembaca hingga lebih baik daripada narasi faktual saja (penelitian menunjukkan naratif lebih mudah dipahami dan diingat daripada teks ekspositoris saja) [⬇️ tempatkan link riset asli]. (PMC)
Definisi Teknis yang Mudah Dikutip
Apa itu Narasi?
Narasi adalah “penceritaan suatu kejadian atau rangkaian peristiwa yang disusun menurut urutan waktu, sehingga pembaca seolah-olah melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu.” (Selasar Bahasa dan Sastra Indonesia)
Narasi Sugestif – Definisi
Narasi sugestif adalah bentuk narasi yang lebih menonjolkan makna, pengalaman, dan imajinasi pembaca, bukan sekadar faktual kejadian. Ciri utamanya adalah penggunaan bahasa yang figuratif, konotatif, dan emosional, yang bertujuan menggugah perasaan dan daya khayal pembaca sebelum menyampaikan informasi objektif apa pun. (Selasar Bahasa dan Sastra Indonesia)
Ciri teknis singkat:
- Menyampaikan makna tersirat atau amanat.
- Menimbulkan daya khayal atau imajinasi.
- Bahasa lebih figuratif dan konotatif.
- Penalaran sering digeser demi pengalaman emosional pembaca. (Selasar Bahasa dan Sastra Indonesia)
Narasi Ekspositoris – Definisi
Narasi ekspositoris bertujuan menyampaikan informasi secara faktual dan objektif, dengan gaya bahasa lugas dan logis, agar pembaca memperoleh pengetahuan yang lebih luas. (kumparan)
Ciri teknis singkat:
- Menyampaikan informasi kejadian atau fakta.
- Didasarkan pada penalaran dan logika.
- Bahasa informatif, denotatif, dan objektif.
- Fokus pada pengetahuan, bukan pengalaman emosional. (Selasar Bahasa dan Sastra Indonesia)
Statistik & Fakta Industri Terbaru
Studi linguistik terhadap lebih dari 75 sampel dengan lebih dari 33.000 peserta menunjukkan bahwa teks naratif secara umum (termasuk sugestif) lebih mudah dipahami dan diingat pembaca dibandingkan teks ekspositoris/faktual. Ini berdampak signifikan pada efektivitas komunikasi dan retensi pembaca dalam penulisan konten edukatif, pemasaran, dan storytelling konten digital.
💡 Tren konten digital menunjukkan konten naratif yang kuat cenderung menghasilkan engagement lebih tinggi di media sosial dan blog profesional, karena pembaca lebih mudah “terhubung secara emosional”.
🧱 Perbedaan Narasi Sugestif vs Narasi Ekspositoris – Tabel Inti
| Aspek | Narasi Ekspositoris | Narasi Sugestif |
|---|---|---|
| Tujuan utama | Memberi informasi/klarifikasi | Menyampaikan makna/emosi |
| Bahasa | Informatif, lugas, denotatif | Figuratif, konotatif, imajinatif |
| Penalaran | Didasarkan pada logika & fakta | Alat bantu penyampaian makna |
| Dampak pada pembaca | Pengetahuan | Pengalaman dan emosi |
| Contoh umum | Biografi, laporan, artikel fakta | Novel, cerpen, dongeng |
Contoh Nyata Narasi Sugestif dan Ekspositoris
Contoh Narasi Ekspositoris
Justin Drew Bieber lahir di London, Ontario, Kanada, pada 1 Maret 1994. Ia dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu dari Kanada, ditemukan oleh Scooter Braun melalui video YouTube-nya pada 2007, yang kemudian membawanya bertemu Usher di Atlanta.
(Fakta, ringkas, objektif: cocok untuk artikel info / biografi) (fahrezyhafidavi.blogspot.com)
Contoh Narasi Sugestif
Rudi menatap buku tugasnya dengan pandangan yang kosong. Hatinya bergelut antara rasa takut dan penyesalan karena semalam ia tenggelam dalam film favoritnya hingga lupa belajar. Perasaan kacau itu semakin tajam kala ia melihat mata pengawas yang tak henti menyapu ruang kelas.
(Fiksi, menggunakan imaji dan emosi pembaca) (sastramaniaknovalina.blogspot.com)
Daftar Langkah-Demi-Langkah Menulis Narasi Sugestif (Lengkap)
Ini panduan praktis yang jarang dibahas di artikel lain dan membawa pembaca ke level menulis naratif tinggi:
- Tentukan Tema & Makna Inti
- Apa yang ingin pembaca rasakan atau pelajari? (mis. harapan, kehilangan, konflik batin)
- Buat Sketsa Plot & Konflik Utama
- Tentukan momen kunci yang menciptakan emosi (bukan sekadar urutan waktu).
- Bangun Tokoh dengan Emosi yang Jelas
- Deskripsikan perasaan, motif, dan perubahan batin tokoh — bukan hanya aksi.
- Pilih Sudut Pandang yang Memaksimalkan Emosi
- Orang pertama sering bekerja sangat kuat dalam narasi sugestif.
- Gunakan Bahasa Figuratif & Sensori
- Metafora, simile, dan detail inderawi meningkatkan immersive experience.
- Rancang Alur dengan Puncak Emosi
- Setiap bagian harus menaikkan atau memodulasi emosi pembaca.
- Gunakan Dialog yang Mengungkapkan Konflik
- Hindari dialog informatif belaka — fokus pada apa yang dirasakan tokoh.
- Akhiri dengan Makna atau Pertanyaan Terbuka
- Biarkan pembaca menarik makna mereka sendiri.
📌 Tip unik: Ciptakan “ruang kognitif” — bagian dalam teks yang sengaja tidak dieksplisitkan, sehingga pembaca membutuhkan imajinasinya untuk mengisi. Ini meningkatkan keterlibatan psikologis.
Langkah-Demi-Langkah Menulis Narasi Ekspositoris
- Tentukan Fokus Fakta Utama
- Riset Data dan Fakta yang Mendukung
- Susun Urutan Kronologis yang Logis
- Gunakan Bahasa Objektif dan Ringkas
- Perkuat dengan Kutipan atau Fakta Pendukung
- Akhiri dengan Ringkasan Inti atau Kesimpulan
- Periksa Kebenaran Fakta sebelum Publikasi
FAQ – Pertanyaan yang Sering Dicari di Google
1) Apa bedanya narasi sugestif dan narasi ekspositoris?
Narasi sugestif bertujuan menggugah imajinasi/pengalaman pembaca melalui bahasa figuratif, sedangkan narasi ekspositoris fokus memberi informasi faktual dan logis. (Selasar Bahasa dan Sastra Indonesia)
2) Contoh narasi sugestif yang baik itu seperti apa?
Cerpen, novel, atau teks kreatif yang mendorong pembaca merasa atau membayangkan kejadian, bukan hanya belajar fakta. (Liputan6)
3) Kapan harus memilih narasi sugestif dalam penulisan?
Saat tujuan Anda adalah menghubungkan secara emosional dengan pembaca, memberi pengalaman atau pesan moral tersirat.
4) Apa contoh yang cocok untuk narasi ekspositoris?
Biografi, sejarah singkat, artikel berita kronologis, atau laporan perjalanan. (fahrezyhafidavi.blogspot.com)
5) Bisakah sebuah tulisan menggabungkan keduanya?
Ya — banyak artikel kreatif menggunakan basis fakta plus elemen sugestif untuk storytelling yang lebih menarik.
Kesimpulan
Memahami perbedaan antara narasi sugestif dan narasi ekspositoris adalah skill penting bagi penulis profesional, editor, dan pembuat konten. Narasi sugestif membuka kesempatan untuk menghubungkan emosi dan makna dengan pembaca secara mendalam, sementara narasi ekspositoris memastikan informasi yang akurat dan mudah dipahami. Keduanya, bila dipadukan secara efektif, dapat meningkatkan kualitas tulisan secara dramatis.
![]()
