Menulis Buku Ajar Kurikulum Merdeka: Ini yang Sering Terlewat Panduan Utama

9 Min Read
Menulis Buku Ajar Kurikulum Merdeka: Ini yang Sering Terlewat Panduan Utama (Ilustrasi)

Menulis buku ajar untuk Kurikulum Merdeka bukan sekadar mentransformasi materi lama ke dalam format baru. Ini adalah kesempatan untuk menciptakan pengalaman belajar yang berdiferensiasi, kontekstual, dan berpusat pada siswa. Namun, banyak penulis terjebak pada aspek teknis administratif dan melupakan esensi filosofi “Merdeka” itu sendiri. Artikel ini mengungkap insight kritis yang sering luput dari perhatian: mulai dari desain alur tujuan pembelajaran yang hidup, integrasi asesmen sebagai kompas belajar (bukan sekadar evaluasi), hingga pentingnya menciptakan “ruang kosong” bagi guru untuk berkreasi. Panduan ini dirancang bukan hanya untuk memenuhi checklist, tetapi untuk membangun buku ajar yang benar-benar memerdekakan proses belajar-mengajar.

Melampaui Sekadar Pemenuhan Daftar Periksa

Kurikulum Merdeka hadir sebagai angin segar dalam dunia pendidikan Indonesia, menekankan fleksibilitas, relevansi, dan pengembangan karakter. Banyak penerbit dan penulis berlomba menghasilkan buku ajar yang “sesuai Kurikulum Merdeka”. Namun, terlalu sering, hasilnya hanya buku teks lama yang diberi label baru, atau produk yang terjebak dalam formalitas tanpa menghidupkan roh kurikulum tersebut. Tulisan ini akan membawa Anda menyelami aspek-aspek subtansial yang kerap terabaikan dalam proses penulisan, memastikan karya Anda tidak hanya compliance, tetapi juga impactful.

Memahami Esensi: Bukan Sekadar Buku, Tapi Rangkaian Pengalaman Belajar

Definisi Teknis yang Perlu Dipahami

Buku Ajar Kurikulum Merdeka adalah media pembelajaran yang dirancang secara sistematis dan holistik untuk memandu peserta didik dalam mencapai Capaian Pembelajaran (CP) melalui serangkaian aktivitas yang berpusat pada siswa, kontekstual, dan fleksibel, dengan mengintegrasikan asesmen formatif sebagai bagian intrinsik dari proses belajar.

Perbedaan mendasar terletak pada fungsi buku. Buku ajar kurikulum sebelumnya sering menjadi “kitab suci” yang urutan dan isinya harus diikuti linear. Dalam Kurikulum Merdeka, buku ajar seharusnya berperan sebagai peta dan kompas yang memberikan berbagai jalur (diferensiasi) untuk mencapai tujuan, sekaligus alat bagi guru untuk menyesuaikan dengan konteks lokal.

Bagian 1: Desain Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang “Hidup” dan Kontekstual

Kesalahan Umum: ATP yang Kaku dan Terisolasi

Banyak penulis hanya menjabarkan ATP secara prosedural tanpa membangun narrative arc atau alur cerita pembelajaran. ATP bukan daftar tujuan yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian episode yang saling terhubung menuju pemahaman utuh.

Insight yang Sering Terlewat: Rancang ATP dengan pertanyaan pemandu (guiding questions) yang memicu rasa ingin tahu. Setiap tujuan pembelajaran harus bisa dijawab dengan pertanyaan “Mengapa ini penting bagi siswa?” dan “Bagaimana ini terkait dengan kehidupan nyata mereka?”. Integrasikan konsep “Transfer Pemahaman” – bukan hanya memahami konsep, tetapi bagaimana siswa akan menerapkan konsep itu dalam situasi baru yang tidak diajarkan langsung.

Bagian 2: Integrasi Asesmen Formatif yang Autentik dan Berkelanjutan

Mengubah Paradigma: Asesmen sebagai Sahabat Belajar, Bukan Musuh

Buku ajar sering kali menempatkan latihan soal di akhir bab sebagai satu-satunya bentuk asesmen. Dalam filosofi Merdeka, asesmen adalah napas pembelajaran itu sendiri.

Apa yang Sering Dilupakan:

  1. Rubrik yang Memberdayakan: Sertakan rubrik penilaian yang dapat dipahami siswa (student-friendly rubric), sehingga mereka dapat menilai diri sendiri (self-assessment) dan menilai teman (peer-assessment). Ini membangun kesadaran metakognitif.
  2. Portofolio Mini: Rancang aktivitas yang hasilnya dapat dikumpulkan sebagai bukti perkembangan, bukan hanya nilai akhir. Buku ajar harus menyediakan template atau panduan sederhana untuk ini.
  3. Umpan Balik yang Dapat Ditindaklanjuti (Actionable Feedback): Jangan hanya menyediakan kunci jawaban. Berikan contoh umpan balik deskriptif yang dapat diberikan guru (atau bahkan teman) untuk membantu siswa meningkatkan karya mereka.

Bagian 3: Menciptakan “Ruang Kosong” bagi Guru dan Siswa

Filosofi “Merdeka” yang Paling Sering Terabaikan

Kurikulum Merdeka memberi kewenangan besar pada guru untuk melakukan diferensiasi dan kontekstualisasi. Buku ajar yang terlalu padat, kaku, dan detail justru membunuh kemerdekaan ini.

Strategi yang Jarang Diterapkan:

  • Modul Pilihan (Optional Modules): Sediakan unit atau proyek tambahan yang bisa dipilih guru berdasarkan minat siswa atau kondisi sekolah.
  • Variasi Aktivitas dengan Tingkat Kesulitan Berbeda: Sajikan 2-3 opsi aktivitas untuk mencapai tujuan yang sama, yang dikategorikan berdasarkan kompleksitas atau modalitas belajar (visual, kinestetik, dll.).
  • Saran Kontekstualisasi: Alih-alih memberikan satu studi kasus, berikan bank of ideas – contoh bagaimana materi bisa dikaitkan dengan potensi lokal daerah berbeda (pesisir, perkotaan, agraris).

Bagian 4: Kontekstualisasi yang Mendalam, Bukan Sekadar Tempelan

Lebih Dari Sekadar Soal Cerita Tentang Pasar atau Sawah

Kontekstualisasi sering direduksi menjadi soal matematika yang memakai nama buah lokal. Itu terlalu dangkal.

Insight Mendalam: Lakukan “Jembatan Kearifan Lokal”. Misalnya, saat mengajar fisika tentang tekanan, ajak siswa mengeksplorasi desain kapal pinisi dari Sulawesi. Saat mengajar biologi tentang ekosistem, kaitkan dengan kearifan subak di Bali. Buku ajar harus memberikan framework atau panduan kepada guru untuk menemukan dan menghubungkan materi dengan kearifan lokal di wilayahnya, bukan memberikan satu konteks yang dianggap mewakili semua.

Bagian 5: Keterampilan Non-Akademik dan Profil Pelajar Pancasila yang Terinternalisasi

Hindari Kotak Khusus “Nilai Karakter”

Menempatkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam boks terpisah justru membuatnya terasa seperti tambahan, bukan jiwa yang menggerakkan pembelajaran.

Cara Mengintegrasikan dengan Elegan:

  • Demonstrasi melalui Tokoh/Role Model: Pilih konten, bacaan, atau studi kasus yang secara natural menampilkan sosok dengan nilai gotong royong, kreatif, atau bernalar kritis.
  • Refleksi Terpandu: Sisipkan pertanyaan refleksi di akhir aktivitas besar, seperti “Bagaimana perasaanmu saat bekerja dalam tim tadi? Apa yang kamu pelajari tentang diri sendiri dan cara berkolaborasi?”
  • Bahasa yang Mengundang (Invitational Language): Gunakan kalimat dalam petunjuk aktivitas yang mendorong sikap menghargai pendapat, keberanian mencoba, dan ketekunan.

Buku Ajar sebagai Jembatan Menuju Pembelajaran yang Memerdekakan

Menulis buku ajar Kurikulum Merdeka yang berkualitas adalah seni mendesain pengalaman. Ia membutuhkan pergeseran mindset dari “penyampai informasi” menjadi “arsitek pembelajaran”. Fokuslah pada penciptaan platform yang memungkinkan interaksi dinamis antara guru, siswa, dan konteksnya. Buku terbaik adalah buku yang tidak hanya dibaca, tetapi dihidupi dan dikembangkan lebih lanjut oleh komunitas pembelajaran di dalam kelas. Dengan memperhatikan aspek-aspek yang sering terlewat di atas, karya Anda akan menjadi kontribusi nyata bagi terwujudnya pendidikan yang lebih relevan dan memanusiakan.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Q: Apakah buku ajar Kurikulum Merdeka harus selalu berisi proyek?
A: Tidak selalu. Proyek (P5) adalah elemen khusus. Yang terpenting adalah pendekatan pembelajaran berbasis inkuiri dan masalah, yang bisa diwujudkan dalam aktivitas-aktivitas kecil, diskusi, atau eksperimen, bukan hanya proyek besar.

2. Q: Bagaimana menyeimbangkan antara fleksibilitas untuk guru dan kepastian struktur untuk siswa?
A: Gunakan prinsip “Struktur Inti – Fleksibilitas Pelaksanaan”. Tawarkan alur dan tujuan inti yang jelas, tetapi berikan banyak pilihan dalam hal sumber belajar, aktivitas, dan instrumen asesmen. Sertakan panduan bagi guru untuk membuat penyesuaian.

3. Q: Seberapa penting integrasi teknologi dalam buku ajar cetak?
A: Sangat penting, tetapi harus bermakna. Jangan sekadar menyertakan QR code ke video. Rancang aktivitas yang memerlukan eksplorasi digital, validasi data, atau kolaborasi menggunakan platform tertentu. Berikan opsi analog untuk sekolah dengan keterbatasan infrastruktur.

4. Q: Bagaimana cara mengakomodasi diferensiasi untuk siswa dengan kemampuan beragam dalam satu buku?
A: Kuncinya adalah modular design. Sajikan materi inti yang wajib untuk semua, lalu lampirkan atau sisipkan bagian “Pengayaan” untuk yang cepat, dan “Dukungan Tambahan” atau scaffolding untuk yang perlu bantuan ekstra. Gunakan bahasa yang tidak mengkotak-kotakkan.

5. Q: Apakah perlu menulis buku yang berbeda untuk setiap fase (A, B, C, D, E)?
A: Ya, karena Capaian Pembelajaran (CP) dan karakteristik perkembangan peserta didik di setiap fase sangat berbeda. Penulis harus memahami lompatan kompetensi dan kebutuhan psikologis anak di fase yang ditargetkan. Buku untuk fase awal (A-B) akan sangat sarat dengan permainan dan konkret, sementara fase akhir (D-E) dapat lebih abstrak dan mandiri.

Loading

Share This Article