Pengaruh Budaya terhadap Tema dan Gaya Bahasa dalam Sastra

10 Min Read
Metode Hybrid dalam Menulis Buku: Menghidupkan Cerita dengan Dua Dunia (Ilustrasi)

Budaya bukan sekadar latar belakang dalam karya sastra; ia adalah DNA yang membentuk identitas naratif, mempengaruhi tema yang diangkat, dan membentuk pola bahasa yang digunakan.

Artikel ini mengeksplorasi hubungan simbiosis antara budaya dengan sastra, menawarkan analisis mendalam tentang bagaimana sistem nilai, kepercayaan, sejarah, dan praktik sosial suatu masyarakat meresap ke dalam tema dan gaya bahasa karya sastra.

Selain sudut pandang konvensional, kami akan membahas konsep “Translasi Budaya Batin” dan peran sastra sebagai “Penjaga Memori Kolektif” perspektif unik yang sering terabaikan.

Panduan ini dirancang untuk pembelajar sastra, penulis, akademisi, dan siapa pun yang ingin memahami kekuatan tak terlihat yang membentuk cerita-cerita yang kita baca dan ceritakan.

Budaya Bercerita

Setiap kali kita membuka halaman sebuah novel, puisi, atau drama, kita tidak hanya memasuki dunia imajinasi penulis. Kita melangkah ke dalam ruang budaya yang hidup sebuah ekosistem nilai, sejarah, dan bahasa yang membentuk cara kisah itu diceritakan dan makna yang disampaikannya.

Hubungan antara budaya dan sastra adalah hubungan yang mendasar dan tak terpisahkan. Artikel ini akan membedah hubungan kompleks ini, khususnya pada dua aspek utama: tema (apa yang diceritakan) dan gaya bahasa (bagaimana diceritakan).

1. Definisi Teknis: Membingkai Konsep

Sebelum menyelam lebih dalam, mari kita definisikan istilah kunci dengan cara yang mudah dikutip dan dipahami.

  • Budaya (dalam konteks sastra): Sistem pengetahuan, kepercayaan, nilai, adat, dan artefak yang dimiliki, diciptakan, dan ditransmisikan oleh suatu kelompok masyarakat, yang berfungsi sebagai lensa kolektif untuk memandang realitas dan mengekspresikan pengalaman.
  • Tema Sastra: Ide sentral, pesan, atau wawasan mendasar yang dieksplorasi dan dikomunikasikan melalui sebuah karya sastra (contoh: perjuangan antara tradisi vs modernitas, pencarian jati diri, konflik sosial).
  • Gaya Bahasa: Pilihan kata (diksi), struktur kalimat (sintaksis), penggunaan majas, ritme, dan teknik linguistik spesifik yang digunakan oleh penulis untuk menciptakan efek tertentu dan menyampaikan nuansa makna.

Pengaruh Budaya terhadap Sastra dapat didefinisikan sebagai: Proses di mana unsur-unsur identitas kultural suatu masyarakat—mulai dari mitologi, sejarah kolonial, struktur keluarga, hingga fenomena kontemporer—secara sadar maupun tidak sadar membentuk materi, pesan, dan bentuk ekspresi linguistik dari karya sastra yang lahir dari dalamnya.

2. Pengaruh Budaya terhadap Tema Sastra

Budaya menyediakan “menu” konflik, dilema, dan pertanyaan eksistensial yang menjadi bahan baku tema sastra.

  • Nilai dan Kepercayaan: Masyarakat kolektivis (seperti banyak di Asia Timur) sering melahirkan tema tentang harmoni sosial, pengorbanan diri untuk keluarga/komunitas, dan konsekuensi individualisme. Sastra Jepang klasik dan modern, misalnya, banyak mengeksplorasi “giri” (kewajiban sosial) versus “ninjo” (perasaan manusiawi). Sebaliknya, budaya individualistik Barat lebih sering mengangkat tema pencapaian pribadi, pemberontakan terhadap otoritas, dan penemuan diri.
  • Sejarah dan Trauma Kolektif: Pengalaman historis membekas dalam tema sastra. Sastra Amerika Latin pasca-“Boom” diwarnai tema realisme magis, yang merupakan cara estetika untuk merepresentasikan realitas sejarah yang penuh kekerasan dan absurditas kediktatoran. Sastra Indonesia pasca-1998 banyak mengangkat tema rekonsiliasi, ingatan yang terhapus, dan kritik otoritarianisme, merefleksikan luka kolektif masa lalu.
  • Struktur Sosial dan Hierarki: Budaya dengan sistem kasta atau kelas yang kaku (seperti India) menghasilkan tema kuat tentang nasib, mobilitas sosial, dan ketidakadilan. Novel-novel seperti “God of Small Things” karya Arundhati Roy mengkritik sistem “Love Laws” yang menentukan siapa boleh mencintai siapa berdasarkan kelas.

Sudut Pandang Unik: Sastra sebagai “Penjaga Memori Kolektif” yang Subversif

Berbeda dari pandangan umum yang melihat sastra hanya sebagai cermin budaya, ada peran yang lebih dalam: sastra sebagai penjaga memori yang halus dan sering kali subversif.

Di mana sejarah resmi mungkin menghapus atau mendistorsi peristiwa tertentu (seperti tragedi 1965 di Indonesia, atau kekejaman apartheid di Afrika Selatan), sastra mengambil alih peran untuk menyimpan dan mentransmisikan memori kolektif itu dalam bentuk metafora, alegori, dan narasi personal.

Novel “Bumi Manusia” Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar kisah Minke, tapi adalah gudang memori tentang kebangkitan nasional dan kritik terhadap kolonialisme. Budaya di sini bukan hanya sumber tema, tapi juga medan pertarungan untuk memperebutkan ingatan dan makna.

3. Pengaruh Budaya terhadap Gaya Bahasa

Jika budaya mempengaruhi “apa” yang diceritakan, ia juga sangat menentukan “bagaimana” cerita itu diungkapkan secara linguistik.

  • Diksi dan Kosakata: Bahasa suatu budaya memiliki kata-kata unik untuk konsep tertentu (“weltschmerz” dalam Jerman, “saudade” dalam Portugis, “ikhlas” dalam bahasa Indonesia/Arab) yang langsung membawa serta worldview budaya tersebut. Penggunaannya dalam sastra memperkaya tekstur dan menyampaikan nuansa yang mungkin tak terbaca dalam terjemahan.
  • Sintaksis dan Irama: Pola pikir budaya terefleksi dalam struktur kalimat. Bahasa dengan sintaksis lincah dan langsung mungkin mencerminkan budaya yang lebih egaliter, sementara struktur kalimat yang sangat hierarkis dan berlapis (seperti dalam beberapa sastra Jawa klasik) dapat mencerminkan budaya dengan strata sosial yang kompleks. Irama prosa sering meniru pola tutur dan musik tradisional masyarakatnya.
  • Majas dan Citraan: Metafora dan simile yang digunakan sangat bergantung pada lingkungan alam dan kehidupan sehari-hari. Sastra Nusantara kaya akan citraan laut, perahu, hujan, dan gunung. Sastra Skandinavia mungkin banyak menggunakan metafora es, musim dingin, dan cahaya redup. Ini bukan sekadar hiasan, tapi cara memahami dunia.
  • Intertekstualitas dengan Folklor dan Sastra Lisan: Banyak gaya penulisan modern yang mengadopsi teknik penceritaan lisan (oral tradition), seperti pengulangan, sapaan kepada pendengar/pembaca, dan struktur sirkuler, seperti yang terlihat dalam karya-karya penulis Afrika seperti Chinua Achebe.

Sudut Pandang Unik: “Translasi Budaya Batin” dan Gaya Hibrida

Perspektif unik lainnya adalah konsep “translasi budaya batin” yang dilakukan penulis, terutama di era globalisasi dan diaspora. Penulis seperti Jhumpa Lahiri atau Maxine Hong Kingston tidak hanya menulis dalam bahasa Inggris; mereka menciptakan gaya bahasa hibrida yang mentransfer logika, ritme, dan struktur bahasa ibu (Bengali, Mandarin) ke dalam bahasa Inggris. Hasilnya adalah sebuah gaya baru yang unik, yang secara linguistik merepresentasikan pengalaman hidup di antara dua (atau lebih) dunia budaya. Ini adalah pengaruh budaya yang tidak lagi monolitik, tetapi dialogis dan terkadang bertabrakan, yang melahirkan bentuk ekspresi bahasa yang sama sekali baru.

4. Konklusi: Sastra sebagai Denyut Nadi Budaya yang Hidup

Pengaruh budaya terhadap tema dan gaya bahasa dalam sastra membuktikan bahwa sastra adalah fenomena yang hidup dan bernafas. Ia tumbuh dari tanah budaya tertentu, menyerap nutrisinya, dan berbuah sebagai kisah-kisah yang unik sekaligus universal.

Dengan memahami pengaruh ini, kita bukan hanya menjadi pembaca yang lebih cerdas, tetapi juga penjelajah budaya yang lebih empatik. Kita belajar bahwa setiap cerita membawa serta denyut nadi tempat dan zamannya, dan dengan membacanya, kita ikut merasakan denyut nadi itu.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Bagaimana budaya mempengaruhi pilihan tema seorang penulis?
Budaya membentuk realitas sehari-hari, sistem nilai, dan konflik yang dialami seorang penulis sejak kecil. Ia menyediakan “bank data” pengalaman dan masalah yang paling relevan dan mendesak untuk dieksplorasi. Penulis seringkali (sadar atau tidak) merespons tekanan, harapan, dan paradoks dalam budaya mereka sendiri melalui tema-tema yang mereka pilih.

2. Bisakah karya sastra terbebas sepenuhnya dari pengaruh budaya penulisnya?
Sangat sulit, bahkan hampir mustahil. Bahkan ketika seorang penulis mencoba menulis tentang dunia yang sama sekali asing atau fiksi ilmiah murni, cara berpikir, kerangka etika, dan estetika bahasanya akan tetap dipengaruhi oleh latar belakang budayanya. Ketidaksadaran budaya (cultural unconscious) selalu hadir dalam proses kreatif.

3. Apa contoh konkret pengaruh budaya Jawa terhadap gaya bahasa sastra Indonesia?
Pengaruhnya sangat kuat, misalnya dalam:

  • Diksi: Penggunaan kata-kata halus (“sampun”, “inggih”) untuk menunjukkan kesantunan.
  • Metafora: Banyak menggunakan perumpamaan dari alam dan kehidupan agraris (“bagai padi, semakin berisi semakin merunduk”).
  • Struktur: Teknik “alur sorot balik” atau “alur mundur” yang kompleks dalam novel-novel tertentu mencerminkan cara pandang waktu yang tidak selalu linear.
  • Filosofi: Gaya bahasa yang sering menyiratkan ketimbang menyatakan langsung, merefleksikan nilai “tepa selira” dan keselarasan.

4. Mengapa penting memahami konteks budaya saat membaca karya sastra tertentu?
Memahami konteks budaya adalah kunci untuk mengapresiasi kedalaman, nuansa, dan tujuan sebuah karya. Tanpanya, kita berisiko salah menafsirkan tindakan karakter, melewatkan kritik sosial terselubung, atau gagal merasakan kekuatan metafora tertentu. Ibaratnya, kita hanya melihat permukaan lukisan tanpa memahami simbol-simbol di dalamnya.

5. Di era globalisasi, apakah pengaruh budaya terhadap sastra semakin memudar?
Tidak memudar, melainkan bertransformasi. Kini kita melihat lebih banyak sastra hibrida atau transnasional, di mana penulis mengolah berbagai pengaruh budaya (lokal, nasional, global, digital) menjadi bentuk baru. Pengaruh budaya tidak lagi tunggal, tetapi majemuk dan saling berinteraksi. Budaya pop global, misalnya, kini juga menjadi bagian dari “budaya” yang mempengaruhi tema dan gaya penulis muda di berbagai belahan dunia.

Loading

Share This Article