Menulis buku sering dianggap sebagai pekerjaan monumental—hanya untuk para sastrawan, akademisi, atau orang yang punya banyak waktu luang.
Menurut data dari UNESCO, lebih dari 2,2 juta judul buku diterbitkan secara global setiap tahunnya, dan banyak di antaranya ditulis oleh orang biasa seperti kita—guru, ibu rumah tangga, profesional, bahkan pelajar. Rahasianya?
Mereka menemukan “jalan pintas” yang membuat proses menulis jadi lebih mudah, menyenangkan, dan layak diselesaikan.
Artikel ini akan membongkar mitos-mitos seputar menulis buku dan memberikan panduan langkah demi langkah yang bisa diterapkan siapa saja, terlepas dari latar belakang atau pengalaman menulis Anda.
Mengapa Banyak Ide Buku yang Tak Pernah Jadi?
Sebelum masuk ke cara, kita perlu pahami akar masalahnya. Survei informal terhadap 1.000 orang yang punya keinginan menulis buku menunjukkan bahwa 73% terhambat oleh:
- Perfeksionisme – Takut tulisan tidak cukup bagus sejak kalimat pertama.
- Kebingungan memulai – Tidak tahu harus mulai dari mana.
- Keterbatasan waktu – Anggapan bahwa menulis butuh waktu luang yang sangat banyak.
- Keraguan diri – Pertanyaan seperti “Apa kata orang nanti?” atau “Siapa yang akan baca?”
Padahal, menulis buku bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang konsistensi dan proses. Faktanya, dengan metode yang tepat, menulis 30.000 kata (panjang buku rata-rata) bisa diselesaikan dalam 1-3 bulan dengan hanya dedikasi 30-60 menit per hari.
Cara Terbukti: Metode “Tulis Dulu, Sempurnakan Kemudian”
Berikut adalah langkah-langkah praktis yang telah membantu ribuan penulis pemula:
1. Tetapkan Niat & Tujuan yang Jelas (The “Why”)
Jangan hanya ingin “menulis buku”. Tanyakan:
· Mengapa Anda ingin menulis buku ini? (Membagikan ilmu, legacy, terapi, bisnis?)
· Siapa pembaca ideal Anda? (Bayangkan satu orang spesifik).
· Apa satu hal utama yang ingin mereka dapatkan setelah membaca?
Data menunjukkan bahwa penulis dengan “why” yang kuat 5x lebih mungkin menyelesaikan naskahnya.
2. Pilih Format yang Paling Mudah Menurut Anda
Buku bukan hanya novel 300 halaman. Pilih format yang sesuai kekuatan Anda:
· Buku panduan praktis (step-by-step, berdasarkan keahlian Anda).
· Kumpulan cerita atau esai (tentang pengalaman hidup, perjalanan, pelajaran).
· Buku berbasis wawancara atau riset (Anda sebagai kurator ide).
· Buku visual (banyak gambar, infografis, ilustrasi dengan penjelasan singkat).
3. Gunakan Teknik “Mind Dump” atau “Braindump”
Ini adalah kunci utama menghilangkan mental block. Selama 3-5 hari, jangan menulis naskah—tulis semua ide yang terpikir tentang buku Anda secara acak.
· Gunakan tools sederhana: Notes di HP, kertas, atau dokumen Word.
· Tulis apapun: konsep, poin-poin bab, anekdot, quote, bahkan pertanyaan.
· Tujuan: Memindahkan semua isi kepala ke “luar”. Setelah ini, Anda tidak lagi menulis dari kekosongan, tapi menyusun dari bahan yang sudah ada.
4. Susun “Kerangka Sederhana” (Simple Outline)
Dari hasil “mind dump”, kelompokkan ide-ide yang sejenis. Susun menjadi struktur sederhana:
· Buku Non-Fiksi: Pendahuluan (Masalah) -> Isi (Solusi, Penjelasan) -> Penutup (Aksi).
· Buku Fiksi/Cerita: Awal (Tokoh & Dunia) -> Tengah (Konflik & Usaha) -> Akhir (Penyelesaian).
· Cukup 3-5 bab utama. Ini adalah peta yang akan mencegah Anda tersesat.
5. Terapkan “Strategi 250 Kata Per Hari”
Ini rahasia paling powerful. Targetkan hanya menulis 250 kata per hari. Mengapa?
· 250 kata hanya setara dengan 1 paragraf panjang atau 10-15 kalimat.
· Butuh waktu 15-25 menit saja.
· Dalam 120 hari (4 bulan), Anda sudah memiliki naskah 30.000 kata.
· Konsistensi > Kuantitas. Lebih mudah memotivasi diri untuk duduk 15 menit daripada 4 jam.
Tips AI & Teknologi: Manfaatkan tools seperti Google Docs (voice typing untuk yang suka bicara), Notion untuk organisasi, atau Grammarly untuk membantu penyuntingan dasar.
Tapi tulis draf pertama sepenuhnya dengan kata-kata Anda sendiri. AI bisa jadi asisten, bukan penulis.
6. Tulis Draf Pertama dengan “Mata Tertutup”
Saat menulis draf pertama, nonaktifkan editor dalam diri Anda.
· Larang diri mengedit saat menulis.
· Abaikan tata bahasa, pilihan kata yang pas, atau alur yang sempurna.
· Misi satu-satunya: SELESAI. Sebuah draf pertama yang berantakan adalah 1000% lebih baik daripada naskah sempurna yang hanya ada di angan.
7. Proses Penyuntingan: Pisahkan Dua Pikiran
Setelah draf pertama selesai, istirahatkan naskah 1-2 minggu. Lalu, kembali dengan dua tahap edit:
· Penyuntingan Besar (Structural Edit): Periksa alur, struktur bab, kelengkapan ide, kesinambungan logika.
· Penyuntingan Kecil (Copy Edit): Perbaiki kalimat, tata bahasa, diksi, dan konsistensi.
· Pertimbangkan meminta beta reader (pembaca percobaan) dari target pembaca Anda untuk mendapatkan umpan balik.
8. Pilih Jalan Publikasi yang Sesuai
Setelah naskah final, Anda punya pilihan:
· Penerbit Mayor: Butuh proposal, seleksi ketat, royalti sekitar 10-15%, tetapi didistribusikan luas.
· Penerbit Indie/Self-Publishing: Kontrol penuh, royalti lebih tinggi (hingga 70%), tanggung jawab pemasaran ada di Anda. Platform seperti Amazon KDP, Google Play Books, atau Leanpub memudahkan.
· Cetak Private/Prints-on-Demand: Untuk buku yang diperuntukkan bagi komunitas terbatas atau sebagai alat bisnis.
Buku adalah “Business Card” Abad 21
Di era digital, memiliki buku tidak lagi sekadar prestise. Buku berfungsi sebagai:
· Alat Validasi Keahlian (Expertise Validator): Sekali diterbitkan, Anda langsung dipandang sebagai ahli di bidang tersebut.
· Aset Digital yang Bekerja 24/7: Buku Anda bisa dijual dan dibaca kapan saja, di mana saja.
· Pintu Menuju Peluang: Bisa menjadi pembicara, konsultan, atau membuka kursus berdasarkan buku tersebut.
Kesimpulan: Mulai dari Mikro, Raih Hasil Makro
Menulis buku itu seperti lari maraton. Anda tidak langsung sprint 42 km. Anda mulai dengan lari 1 km, lalu 2 km, dan seterusnya. Kekuatan terbesar ada pada konsistensi mikro.
· Lupakan kesempurnaan.
· Pecah proses jadi bagian kecil (250 kata/hari).
· Percayai proses, bukan hanya pada motivasi.
Tindakan Anda Hari Ini: Buka notes atau dokumen baru. Dalam 10 menit ke depan, tuliskan 3 ide besar yang ingin Anda bagikan kepada dunia. Itulah calon bab pertama buku Anda. Selamat, Anda sudah memulai perjalanan!
Dengan pendekatan yang manusiawi dan terstruktur ini, menulis buku bukan lagi tentang “bakat”, tapi tentang metode dan komitmen. Setiap orang punya cerita dan ilmu yang berharga.
Sekarang, waktunya Anda membagikannya dalam bentuk yang akan abadi: sebuah buku. Mulailah menulis, bukan besok, tapi sekarang juga.
![]()
