Buku ini bukan sekadar kajian teori, melainkan sebuah refleksi diri untuk menemukan kembali diri kita melalui tubuh. Sering kali kita lupa bahwa tubuh bukan cuma bungkus daging fisik atau sekadar “mesin” yang menjalankan perintah otak. Tubuh adalah arsip kehidupan yang paling jujur; ia menyimpan rekaman luka, jejak bahagia, hingga memori yang tidak bisa dituntaskan lewat bahasa verbal. Berangkat dari kegelisahan terhadap pandangan filsafat klasik yang sering menyepelekan tubuh, seperti anggapan Plato bahwa tubuh adalah penjara bagi jiwa, penulis kemudian mengajak kita memutar logika tersebut, tubuh justru adalah pusat dari segala pengalaman eksistensial manusia.
Lewat bahasa naratif yang akrab, kita akan diajak menelusuri bagaimana tubuh terbentuk sejak dalam kegelapan rahim hingga ia menjadi identitas kita yang paling nyata di dunia. Namun, buku ini tidak berhenti di sana. Penulis membedah bagaimana tubuh kita sering kali dipaksa tunduk pada aturan sosial, diawasi oleh kekuasaan, dan terjebak dalam ekspektasi orang lain. Dengan menghadirkan pemikiran filsuf seperti Nietzsche dan Foucault, kita diajak melihat bahwa di balik kerapuhannya, tubuh memiliki kebijaksanaannya sendiri yang autentik.
Di bagian akhir, narasi ini menyentuh sisi kemanusiaan kita yang paling dalam tentang rasa sakit, penuaan tubuh, dan kematian. Penulis dengan indah menyebut tubuh yang akan menua sebagai “puing yang kudus” sebuah saksi sejarah hidup yang patut dijalani, bukan dihindari. Dengan memadukan filsafat eksistensial hingga kedalaman spiritualitas sufi, buku ini adalah sebuah ajakan hangat untuk berhenti sejenak dan “pulang” ke dalam diri sendiri. Sebuah ajakan untuk mencintai tubuh apa adanya, serta memahami makna menjadi manusia melalui setiap tarikan napas dan detak jantung yang masih kita miliki.