Buku Hagabeon: Berkat atau Kutuk? mengkaji secara kritis konsep hagabeon nilai budaya Batak Toba yang menempatkan keturunan sebagai ukuran kehormatan dan kelengkapan keluarga. Berdasarkan penelitian akademik selama lebih dari dua tahun, buku ini menelusuri akar antropologis hagabeon, dampaknya terhadap kehidupan keluarga, serta ketegangannya dengan iman Kristen.
Dengan pendekatan etis-teologis dan kajian Alkitab, buku ini menegaskan bahwa memiliki anak memang merupakan anugerah, tetapi bukan satu-satunya tanda berkat Allah. Sebaliknya, tidak memiliki keturunan bukanlah kutuk, dan tidak boleh menjadi dasar stigma sosial maupun tekanan adat. Buku ini menawarkan pemahaman baru yang membebaskan: bahwa identitas dan nilai keluarga Kristen tidak bergantung pada keturunan biologis, melainkan pada kasih, kesetiaan, dan kedaulatan Allah