Aku terdiam dalam saku Vero. Aku dengar kata-kata romansa antara Niko dan Vero. Gadis berdarah Deiyai itu mampu bilaskan ketulusan hati hingga hasilkan busa-busa perpisahan. Ia adalah Veronika, pemilik diriku (kalung harapan). Di bukit Perumahan Jayapura ia menjadi terpesona. Di bandar Udara Sentani ia menjadi pemberi harapan palsu. Aku terkubur dalam semak duri cinta atas tingkahnya. Niko yang lemah atas cintanya itu ia bungkuskan diriku di antara tumpukan kertas dalam kelas kaca. Aku tak punya apa-apa lagi.