Pencapaian akademik saat ini penulis melihat belum mampu menjadi tolak ukur kemampuan seseorang untuk dapat menilai mana yang pantas dan tak pantas. Buktinya preferensi keterlibatan remaja secara umum dimerata dunia mengalami fluktuasi. Kehadiran media sosial dipastikan menjadi “alat tempur” yang sangat Tangguh dalam upaya negosiasi kaum penyuka sesame jenis. Maka dari itu, buku monograf ini bertujuan untuk menganalisis fenomena, ideologi, negosiasi dan internalisasi kaum penyuka sesame jenis melalui media sosial. Melalui pendekatan deskriptif, dengan eksplorasi yang mendalam, penulis berupaya menggali pola konstruksi yang dilakukan oleh kaum penyuka sesame jenis di media sosial. hasil penelitian ini menunjukkan Pertama, Munculnya ideologi baru dalam kelompok kaum penyuka sesama jenis yang tersistematis dalam berbagai sector kehidupan seperti kebijakan publik, peraturan dan perundangan, relijiusitas, kebijakan pertahanan hingga pada mengubah paradigma masyarakat tentang kehidupan berkeluarga.
Kedua, Berlakunya proses internalisasi diri yang dilakukan oleh kaum penyuka sesama jenis kepada pengikutnya maupun calon pengikutnya pada akun media sosial yang dimilikinya secara kebetulan. Ketiga, Negosiasi identitas yang dilakukan oleh kaum penyuka sesame jenis ini lebih mengedepankan dan membangun nilai-nilai empati sebagai alat propaganda kepada pengikut media sosial mereka. Keempat, Berlakunya migrasi besar-besaran terhadap penggunaan dan pemanfaatan platform media sosial. Kelima, Lahirnya istilah-istilah baru pada kaum penyuka sesama jenis sebagai bentuk pengukuhan keberadaan mereka yang diadopsi melalui budaya luar.