Potensi objek wisata di Kabupaten Aceh Singkil, tidak hanya kekayaan alam, penulis juga menekankan penerapan nilai-nilai budaya religius sebagai diferensiasi utama Aceh Singkil. Masyarakat yang mayoritas beragama Islam mempraktikkan nilai-nilai syariat secara kuat dalam kehidupan sehari-hari. Warisan ulama besar Nusantara seperti Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Hamzah Fansuri menjadi modal historis bagi pengembangan wisata religi berbasis literasi sejarah Islam. Situs-situs makam, tradisi adat, serta kesenian lokal seperti tari Sikambang dan Badampeng memperkaya atraksi wisata berbasis budaya dan spiritual.
Buku ini juga menguraikan aspek penting tentang peran serta masyarakat dalam pembangunan pariwisata. Konsep Community Based Tourism dipandang sangat relevan karena masyarakat berpotensi menjadi aktor utama sebagai penyedia jasa wisata, penjaga kelestarian lingkungan, serta pelestari kearifan lokal. Keikutsertaan masyarakat menjadi pondasi keberlanjutan dan mencegah konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber daya wisata.
Di bagian strategis, penulis membahas arah pengembangan pariwisata yang mencakup aspek perencanaan wilayah, peningkatan kualitas SDM pariwisata, pemasaran destinasi, dan koordinasi antarsektor. Penulis menekankan pentingnya integrasi kebijakan, peningkatan infrastruktur seperti transportasi dan akomodasi, serta inovasi promosi berbasis teknologi digital. Selain itu, penerapan prinsip keberlanjutan sangat diutamakan agar kegiatan wisata tidak merusak ekosistem pantai, laut, dan kawasan konservasi yang menjadi aset utama Aceh Singkil.
Di akhir buku ini, penulis menjelaskan suatu pandangan strategis bahwa pariwisata religius di Kabupaten Aceh Singkil bukan hanya peluang ekonomi, melainkan juga media representasi ajaran Islam yang ramah, terbuka, dan bernilai universal. Pengembangan pariwisata harus menempatkan nilai-nilai Islami sebagai ruh pengelolaan, tanpa menghambat kenyamanan wisatawan yang hadir dari berbagai latar budaya dan agama.