Kekerasan terhadap anak perempuan meninggalkan luka yang tidak hanya terukir di tubuh, tetapi juga mengoyak jiwa, merenggut rasa aman, dan menghancurkan kepercayaan terhadap dunia. Pemulihan dari trauma memerlukan pendekatan yang tidak sekadar menyembuhkan gejala psikologis, tetapi juga merekonstruksi makna hidup dan mengembalikan koneksi spiritual yang terputus. Buku ini menawarkan paradigma holistik yang mengintegrasikan teori trauma kontemporer seperti Complex PTSD, neurobiologi trauma, dan teori resiliensi dengan kearifan spiritual Islam, khususnya konsep tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), ṣabr (kesabaran), dan tawakkal (penyerahan diri). Buku ini mengeksplorasi peran tokoh agama, institusi pesantren, dan komunitas keagamaan sebagai aktor kunci dalam ekosistem pemulihan dengan menempatkan konteks sosial-budaya Indonesia sebagai pusat analisis.
Buku ini menyajikan landasan teoretis yang kokoh sekaligus panduan praktis yang aplikatif bagi psikolog, konselor, tokoh agama, pekerja sosial, akademisi, dan pembuat kebijakan. Pembahasan mencakup asesmen holistik, tahapan intervensi, teknik konseling trauma, hingga strategi mobilisasi dukungan komunitas. Dilengkapi dengan studi kasus, instrumen asesmen, dan panduan konseling spiritual, karya ini menjadi sumber daya komprehensif bagi siapa saja yang terlibat dalam pemulihan anak korban kekerasan. Lebih dari sekadar manual intervensi, buku ini adalah seruan untuk transformasi paradigma dalam mengakui anak sebagai subjek aktif, mengintegrasikan spiritualitas sebagai dimensi esensial kesehatan mental, dan membangun kolaborasi untuk menciptakan lingkungan yang aman dan responsif bagi setiap anak.