Catatan ini sebenarnya dibuat sebagai medium dan penanda saja terkait dengan apa yang saya alami, hadapi, temui dengan beragam dinamika yang muncul dalam perjalanan saya membantu Bapak Rektor Safi. Bisa jadi itu ekspresi sesaat saja untuk menjadi katalisator agar masalah tidak saya pendam sendiri. Saya jadikan tulisan agar bisa saya bagi kepada publik sehingga bisa menjadi agenda bersama, menemukan jalan perbaikan dan solusi bersama untuk perbaikan kampus tercinta. Siapa tahu sebagian ide itu akhirnya bisa menjadi jalan perubahan, perbaikan dan bisa diakomodasi dalam kebijakan dan diwujudkan.
Catatan ini bisa jadi semacam catatan mingguan yang sempat saya bikin dan saya share di media social untuk publik sebagai upaya mengkabarkan tempat dimana saya mengabdi. Catatan ini mendapat tanggapan yang beragam, tetapi paling tidak ini bisa menjadi pemantik munculnya diskusi-diskusi perbaikan tata kelola dan manajemen kemahasiswaan di UTM. Terus terang saya tidak terbebani apa pun saat menulis catatan ringan ini. Semua mengalir begitu saja sebagai upaya reflektif retropeksi bagaimana kesiapan kita membaca perubahan masa depan yang demikan cepat dan dinamis. Saya ingin menekankan hal ini mengingat kemampuan kita didalam membaca kecenderungan masa depan akan sangat berkaitan dengan kesiapan kita dalam menguatkan kapasitas dan kompetensi menghadapi situasi tersebut. Jadi literasi tentang masa depan ini juga penting untuk terus diinternalisasikan kepada civitas academica agar kita memiliki kesiapan dan kesigapan dalam menghadapi perubahan masa depan yang demikian kompleks. Karena memang tidak ringan dan tidak mudah memang mengelola mahasiswa hampir 20.000 dengan beragam dinamika yang terjadi. Di tengah berbagai keterbatasan dan tuntutan yang ada memang membutuhkan effort super sehingga kita bisa mengelola berbagai dinamika perubahan itu dengan baik.