Membaca buku “Sang Pengarang” ini, kita serasa dibawa lebih jauh kepada pengenalan kita terhadap sang penulis yang berpengatahuan luas dan kompeten ini. Mulai semenjak dirinya menjadi penulis kecil melalui karangan-karangannya yang penuh imajiner hingga masa remajanya yang mulai mengarang lebih serius, masa SMA yang sungguh mengherankan sudah pula diisi dengan menulis karya-karya opini yang memiliki perspektif dan retorika dunia intelektual. Bersamaan itu, kini Haryadi muda sudah pula mendapat pencerahan tentang pilihannya menjadi pengarang sebagai panggilan hidupnya. Jarang saya menjumpai seorang muda bercita-cita ingin menjadi pengarang manakala dunia mengarang tak ubahnya seperti dunia yang sepi belaka. Jangankan disambut dengan hiruk-pikuk seperti dunia keartisan yang diidolakan para remaja, pilihan menjadi pengarang sesungguhnya adalah pilihan untuk memasuki keramaian yang berkecamuk hanya di dalam dunia kognitif, alam pikir dialektika imajiner yang tidak mudah dicerna, apalagi bagi masyarakat yang masih rendah minat baca dan literasinya.