Hindari Kesalahan Fatal Penulis Pemula Saat Mengurus ISBN Mandiri

8 Min Read
Jangan Cetak Dulu! Cek 3 Kesalahan Fatal Layout Ini yang Bikin Buku Terlihat Murahan (Ilustrasi)

Dalam ekosistem literasi modern, International Standard Book Number (ISBN) bukan sekadar deretan angka di barcode sampul belakang. Ia adalah identitas unik global yang memberikan validitas pada sebuah karya.

Namun, sejak perubahan regulasi pendaftaran ISBN oleh Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) yang semakin ketat—terutama untuk memfilter fenomena vanity publishing dan penyalahgunaan kuota—banyak penulis pemula terjebak dalam labirin administratif.

Mengurus ISBN secara mandiri (melalui jalur komunitas atau penerbitan mandiri yang sah) memerlukan ketelitian tingkat tinggi. Artikel ini akan membedah secara mendalam kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan penulis pemula serta bagaimana cara menghindarinya berdasarkan standar terbaru.

1. Kegagalan Memahami Definisi “Penerbit” dalam Regulasi Terbaru

Salah satu kesalahan paling fundamental adalah menganggap bahwa individu (penulis) bisa mendapatkan ISBN atas nama pribadi tanpa payung hukum atau komunitas yang terverifikasi.

  • Data & Fakta: Berdasarkan surat edaran terbaru Perpusnas, pengajuan ISBN kini lebih diperketat untuk akun penerbit baru. Penulis tidak bisa lagi mendaftar sebagai “perorangan” secara bebas tanpa entitas yang jelas.
  • Kesalahan: Mencoba mendaftar akun di portal ISBN Perpusnas dengan data diri pribadi tanpa memiliki legalitas usaha (CV/PT) atau bergabung dengan asosiasi yang diakui.
  • Solusi: Pastikan Anda bekerja sama dengan penerbit indie yang memiliki akun resmi atau memiliki legalitas badan usaha jika ingin membangun penerbitan sendiri.

2. Ketidaksesuaian Data Antara Dummy Buku dan Formulir

Proses validasi ISBN melibatkan verifikasi manual oleh petugas. Ketidakkonsistenan sekecil apa pun akan menyebabkan penolakan (revisi).

Kesalahan yang Sering Muncul:

  • Judul Berbeda: Judul di surat permohonan berbeda satu huruf dengan judul di halaman inner (halaman judul).
  • Data Penulis: Menggunakan nama pena di sampul tetapi menggunakan nama asli di formulir tanpa keterangan yang jelas.
  • Kategori KTI vs Fiksi: Mengajukan buku fiksi namun menggunakan template surat untuk Karya Tulis Ilmiah (KTI), atau sebaliknya.

Tip High Value: Selalu lakukan cross-check tiga titik: Surat Pernyataan, Halaman Judul (Inner), dan Halaman Hak Cipta (Imprint). Ketiganya harus identik secara tekstual.

3. Melanggar Aturan “Satu Nomor Satu Format”

Banyak penulis pemula mengira satu nomor ISBN berlaku untuk semua versi buku. Ini adalah kekeliruan teknis yang fatal dalam bibliografi internasional.

Versi BukuPerlu ISBN Baru?Keterangan
Cetak (Paperback)YaIdentitas utama buku fisik.
E-book (PDF/EPUB)YaDianggap format berbeda secara digital.
HardcoverYaJika spesifikasi fisik berubah drastis dari paperback.
Edisi RevisiYaJika perubahan konten lebih dari 20%.

Dampak Kesalahan: Jika Anda menggunakan ISBN versi cetak untuk versi e-book yang dijual di Google Play Books, metadata buku Anda akan kacau di database global, yang berisiko pada pemblokiran akun distribusi.

4. Mengabaikan Pentingnya Unsur Legalitas (Halaman Imprint)

Perpusnas mewajibkan setiap buku yang diajukan memiliki halaman hak cipta atau imprint yang lengkap. Penulis pemula sering kali membuat halaman ini secara asal-asalan.

Data yang wajib ada dalam halaman imprint:

  1. Judul Buku dan Nama Penulis.
  2. Nama Penerbit dan Alamat Lengkap.
  3. Nomor Anggota IKAPI (Jika ada, namun sangat disarankan).
  4. Klaim Hak Cipta (Contoh: © 2026 oleh Penulis).
  5. Tahun Terbit dan Cetakan Keberapa.

Kesalahan Umum: Meletakkan logo penerbit yang tidak terdaftar di sistem atau mencantumkan alamat yang tidak sesuai dengan data legalitas saat pendaftaran akun.

5. Estimasi Waktu yang Tidak Realistis

Banyak penulis menjanjikan tanggal launching buku kepada pembaca tanpa memperhitungkan durasi birokrasi.

  • Realita: Proses verifikasi akun penerbit baru bisa memakan waktu 1–5 hari kerja. Setelah akun aktif, pengajuan satu judul buku memakan waktu 3–7 hari kerja (tergantung antrean di Perpusnas).
  • Kesalahan: Melakukan Pre-Order (PO) sebelum nomor ISBN keluar. Jika pengajuan ditolak atau diminta revisi, proses akan mengulang dari awal, dan Anda akan kehilangan kepercayaan pembaca karena keterlambatan cetak.

6. Penggunaan Sinopsis yang Tidak Sesuai Kriteria

Sinopsis untuk pengajuan ISBN bukan sekadar blurb pemasaran yang penuh teka-teki. Petugas Perpusnas perlu mengetahui isi buku untuk menentukan klasifikasi DDC (Dewey Decimal Classification).

  • Kesalahan: Menulis sinopsis yang terlalu singkat (kurang dari 3 kalimat) atau hanya berisi kutipan puitis tanpa menjelaskan substansi buku.
  • Standar Berkualitas: Sinopsis harus menggambarkan alur (untuk fiksi) atau pokok bahasan (untuk non-fiksi) secara lugas. Minimal terdiri dari 100-200 kata yang informatif.

7. Salah Memilih Kategori Publikasi

Sejak tahun 2022, Perpusnas sangat selektif terhadap jenis buku yang layak mendapatkan ISBN. Tidak semua dokumen tertulis bisa diberi nomor ISBN.

Dokumen yang sering ditolak (Jangan diajukan):

  • Buku mewarnai (tanpa narasi edukasi).
  • Buku agenda atau jurnal kosong (Planner).
  • Laporan internal organisasi.
  • Karya tulis yang belum diolah menjadi format buku (misal: Skripsi mentah).
  • Buku dengan konten yang melanggar norma atau hak cipta orang lain.

8. Tidak Melakukan Serah Simpan Karya Cetak dan Rekam (KCKR)

Ini adalah kesalahan pasca-pengurusan yang sering diabaikan. Berdasarkan UU No. 13 Tahun 2018, setiap penerbit/penulis yang mendapatkan ISBN wajib mengirimkan karyanya ke Perpusnas dan Perpustakaan Provinsi.

  • Risiko: Jika Anda tidak mengirimkan contoh buku fisik (2 eksemplar ke Perpusnas, 1 ke Perpusda), akun penerbit Anda bisa dibekukan (suspend). Akibatnya, Anda tidak akan bisa mengajukan ISBN untuk buku-buku selanjutnya.
  • Kesalahan: Menganggap tugas selesai setelah barcode ISBN muncul.

9. Kesalahan Teknis Penempatan Barcode pada Desain Sampul

Meskipun terlihat sepele, penempatan barcode yang salah dapat mengganggu estetika dan fungsionalitas di toko buku.

  • Kesalahan: Mengubah rasio (distorsi) barcode sehingga tidak bisa dipindai oleh scanner laser.
  • Standar: Barcode ISBN sebaiknya diletakkan di sisi kanan bawah sampul belakang dengan kontras warna yang jelas (hitam di atas latar putih/terang). Ukuran standar minimal adalah 30mm x 20mm.

Bagaimana Cara Menghindari Semua Kesalahan Ini?

Untuk memastikan proses pengurusan ISBN berjalan mulus, ikuti daftar periksa (checklist) berikut:

  1. Verifikasi Legalitas: Gunakan jasa penerbit yang memiliki kredibilitas atau pastikan badan usaha Anda sudah terdaftar di portal ISBN.
  2. Siapkan Dokumen PDF Sempurna: Pastikan file PDF yang diunggah berisi: Halaman Judul, Halaman Imprint, Kata Pengantar, Daftar Isi, dan Sinopsis. Jangan mengirim naskah utuh jika tidak diminta.
  3. Sinkronisasi Metadata: Pastikan judul di formulir web, surat pernyataan, dan file PDF sama persis hingga ke tanda bacanya.
  4. Alokasikan Waktu Luang: Beri jeda minimal 14 hari kerja antara pengajuan ISBN dengan rencana cetak masal.

Kesimpulan

Mengurus ISBN secara mandiri adalah langkah besar menuju profesionalisme seorang penulis. Namun, kemudahan akses teknologi harus dibarengi dengan kepatuhan terhadap regulasi yang ada. Kesalahan penulis pemula umumnya berakar pada kurangnya riset mengenai standar terbaru Perpusnas dan ketidaksabaran dalam mengikuti alur birokrasi.

Dengan menghindari sembilan kesalahan di atas, Anda tidak hanya menyelamatkan waktu dan biaya, tetapi juga turut menjaga integritas database literasi nasional. Ingat, sebuah buku adalah warisan; pastikan identitasnya tercatat dengan benar dan legal.

Loading

Share This Article