Hindari 5 Jenis Kata Ini Agar Buku Anak Anda Lebih Disukai dan Mendidik

9 Min Read
Hindari 5 Jenis Kata Ini Agar Buku Anak Anda Lebih Disukai dan Mendidik (Ilustrasi)

Buku anak bukan sekadar cerita yang disederhanakan untuk pembaca muda. Ia adalah dunia pertama di mana anak membangun pemahaman tentang bahasa, nilai, dan realitas. Kesalahan pemilihan kosakata oleh penulis dewasa dapat mengganggu pengalaman membaca, merusak imajinasi, dan bahkan menciptakan bias yang tertanam dalam diri anak. Artikel ini mengupas secara mendalam kata-kata yang perlu dihindari, bukan dari sudut pandang sensor, melainkan dari prinsip “kontrak baca-tumbuh” antara penulis dan pembaca cilik. Kami menyajikan analisis unik tentang “kata-kata perampok”, yakni kosakata dewasa yang mencuri ruang perkembangan bahasa anak, dilengkapi panduan praktis dan alternatif kreatif untuk menghasilkan karya yang benar-benar menyentuh dunia anak.

Mengapa Pilihan Kata dalam Buku Anak Begitu Krusial?

Buku anak beroperasi di dua ranah sekaligus: sebagai cermin yang merefleksikan dunia anak dan sebagai jendela yang membuka wawasan baru. Bahasa adalah alat utamanya. Setiap kata yang dipilih bukan hanya alat bercerita, tapi juga batu bata fondasi kognitif dan emotional intelligence pembaca muda. Kesalahan dalam memilih kata dapat membuat cerita terasa menjemahkan, tidak autentik, atau bahkan secara tidak sengaja menyampaikan pesan yang keliru.

Apa Itu “Kata Dewasa” dalam Konteks Buku Anak?

Secara teknis, “kata dewasa” dalam konteks ini merujuk pada kosakata, konsep, atau konstruksi kalimat yang berada di luar kerangka berpikir, pengalaman emosional, atau perkembangan linguistik anak pada usia target. Ini bukan sekadar kata yang panjang atau sulit, melainkan kata yang:

  1. Abstrak dan Tidak Konkret: Mengandalkan pemahaman konseptual yang belum dimiliki anak.
  2. Bernuansa Emosi Kompleks: Membawa muatan perasaan yang terlalu rumit atau ambigu.
  3. Berbasis Pengalaman Hidup Dewasa: Mengandaikan pengetahuan dunia dewasa (seperti birokrasi, beban finansial, atau hubungan romantis yang kompleks).
  4. Bersifat Menggurui atau Mematikan Imajinasi: Memberi penjelasan eksplisit yang tidak menyisakan ruang bagi anak untuk menyimpulkan atau membayangkan sendiri.

Kata yang Perlu Dihindari dan Alternatif Kreatifnya

1. Kata Emosi yang Terlalu Kompleks dan Tidak Kontekstual

Hindari kata seperti: frustasi, jenuh, pasrah, terkekang.
Mengapa? Emosi seperti “frustasi” adalah amalgamasi dari kekecewaan, kemarahan, dan kepasrahan yang rumit. Anak merasakan komponen-komponen itu secara terpisah: “sedih karena gagal”, “marah karena susah”, “ingin menyerah”.
Alternatif: Gunakan deskripsi perilaku atau fisik. Daripada “Roro merasa frustasi,” coba “Roro menghentakkan kakinya. Matanya berkaca-kaca. Balok-balok itu jatuh lagi dan lagi.”

2. Kata Sifat yang “Mati” dan Tidak Sensoris

Hindari kata seperti: indah, hebat, mengerikan, baik.
Mengapa? Kata-kata ini adalah label akhir yang mematikan proses observasi anak. Mereka tidak melatih indera pembaca untuk melihat, mendengar, dan merasakan dunia cerita.
Alternatif: Gunakan bahasa yang memanggil indera. Daripada “istana yang indah,” coba “istana dengan menara yang menjulang seperti kuku raksasa, atapnya berkilauan seperti susu yang ditaburi cahaya matahari.”

3. Kata yang Melompati Proses dan Logika Anak (Deus ex Machina)

Hindari kata seperti: tiba-tiba, secara ajaib, secara kebetulan.
Mengapa? Penggunaan berlebihan kata-kata ini melatih anak untuk menerima solusi instant tanpa sebab-akibat, merusak logika bercerita dan menghilangkan ketegangan.
Alternatif: Bangun rantai kejadian, sekecil apapun. Daripada “Tiba-tiba, seekor burung ajaib muncul,” coba “Kiki mendengar kicauan pilu dari balik semak. Saat didatanginya, seekor burung kecil sayapnya tersangkut pada ranting.”

4. Kata yang Membawa Bias dan Prasangka Dewasa

Hindari kata seperti: pantas/tidak pantas (berdasarkan gender), lemah lembut (hanya untuk perempuan), pemberani (hanya untuk laki-laki), nakal (label negatif yang absolut).
Mengapa? Kata-kata ini adalah kendaraan halus untuk menyebarkan stereotip dan membatasi identitas anak.
Alternatif: Deskripsikan perilaku spesifik tanpa label. Daripada “Dian anak yang lemah lembut,” coba “Dian suka memperhatikan detail. Dia tahu persis di mana siput bersembunyi setelah hujan.”

5. Kata Pengandaian dan Konsep Waktu yang Abstrak

Hindari: seandainya, andaikan, nanti (dalam arti waktu yang sangat panjang), beberapa tahun kemudian.
Mengapa? Pemahaman waktu anak bersifat konkret (“setelah makan siang”, “besok”). “Beberapa tahun kemudian” adalah lompatan kosong yang tidak bermakna bagi mereka.
Alternatif: Tetap dalam timeline yang bisa dibayangkan atau gunakan tanda alam. Daripada “Beberapa tahun kemudian, ia menjadi pahlawan,” coba “Musim berganti tiga kali. Saat pohon randu kembali berbuah, budi baik Kaka akhirnya berbuah pula.”

Sudut Pandang Unik: “Kata-Kata Perampok” dan Konsep “Kontrak Baca-Tumbuh”

Berbeda dengan artikel lain yang hanya memberi daftar larangan, pandangan unik di sini adalah konsep “Kata-Kata Perampok”. Kata-kata ini adalah kosakata dewasa yang “merampok” empat hal dari anak:

  1. Hak untuk Berproses: Dengan memberi label cepat (“hebat”, “nakal”), kita merampok hak anak untuk memahami proses dan nuansa.
  2. Kesenangan Mengurai Misteri Bahasa: Kata abstrak merampok kesenangan anak menebak makna dari konteks dan bunyi kata.
  3. Kepemilikan atas Imajinasi: Deskripsi yang terlalu detail dan tertutup merampok ruang anak untuk melukiskan gambaran mentalnya sendiri.
  4. Autentisitas Emosi: Kata emosi dewasa yang dipaksakan merampok kesempatan anak mengenali dan menamai perasaan sederhana mereka sendiri.

Kontrak Baca-Tumbuh adalah kesepakatan tidak tertulis bahwa penulis akan menghormati dunia anak, bukan menurunkan diri mereka ke level anak, melainkan mendaki dengan sungguh-sungguh ke puncak gunung imajinasi anak dan bercerita dari sana.

Tips Praktis bagi Penulis: Menulis untuk Anak, bukan tentang Anak

  1. Uji dengan Membaca Keras: Bacakan naskah Anda dengan lantang. Jika ada kata yang terasa “kaku” atau “berat” di lidah dan telinga, ganti.
  2. Gunakan “Kamera Anak”: Bayangkan Anda memegang kamera yang merekam apa yang bisa dilihat, didengar, dicium, dan diraba oleh anak. Tuliskan hanya itu.
  3. Hormati Inteligensi, Bukan Hanya Usia: Anak mungkin belum tahu kata “negotiation”, tetapi mereka paham konsep “bagi mainan”. Gunakan konsep yang mereka pahami sebagai jembatan.
  4. Kolaborasi dengan Pembaca Cilik: Jika memungkinkan, bacakan pada anak usia target dan perhatikan saat mereka melirik, menguap, atau bertanya. Itu adalah umpan balik berharga.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Ditanyakan)

Q1: Apakah berarti kita harus selalu menghindari kata-kata sulit dalam buku anak?
A: Tidak. Kata sulit yang kontekstual dan bisa dipahami dari alur cerita justru memperkaya kosa kata anak. Misal, dalam cerita tentang laut, kata “lokaria” untuk gurita bisa diperkenalkan jika ada ilustrasi dan konteks yang mendukung. Yang dihindari adalah kata abstrak yang tidak bisa dijelaskan oleh cerita.

Q2: Bagaimana dengan buku anak yang mengandung pesan moral? Bukankah harus ada kata-kata pengajaran?
A: Pesan moral yang efektif dalam buku anak adalah yang tersirat, bukan tersurat. Alih-alih karakter mengatakan “Kita harus jujur,” buatlah cerita di mana konsekuensi kejujuran dan ketidakjujuran ditunjukkan secara alamiah. Biarkan anak yang menyimpulkan.

Q3: Apakah aturan ini juga berlaku untuk buku anak usia SD atas (9-12 tahun)?
A: Perlahan-lahan, kompleksitas bisa ditambah. Anak usia ini mulai mampu memahami metafora yang lebih dalam dan emosi yang lebih kompleks. Namun, prinsip dasarnya tetap: keautentikan. Bahasa harus tetap sesuai dengan suara hati dan pengalaman karakter anak seusianya, bukan menjadi khotbah mini dari penulis dewasa.

Q4: Dari mana saya bisa belajar kosakata yang tepat untuk buku anak?
A: Dengarkan. Dengarkan percakapan anak di taman, di warung, di sekolah. Perhatikan bagaimana mereka bercerita. Baca buku anak klasik dan kontemporer yang diakui secara kritis. Analisis pilihan kata mereka. Bahasa anak penuh dengan kejutan, metafora sederhana namun brilian, dan ritme yang natural.

Menulis buku anak adalah tindakan merendahkan hati dengan penuh hormat. Itu adalah kesediaan untuk meletakkan baggage kedewasaan kita—skeptisisme, abstraksi, sinisme—dan memilih kata-kata yang membangun, bukan yang membatasi; yang membuka telinga imajinasi, bukan yang menutupnya dengan penjelasan final. Dengan menghindari kata-kata yang “merampok” dan memilih kata-kata yang “memberi”, kita bukan hanya menulis cerita. Kita memberikan peta bahasa pertama bagi seorang anak untuk menavigasi dunianya yang luas dan menakjubkan.

Loading

Share This Article