Pernahkah Anda merasa bingung saat mendengar penutur asli bahasa Inggris mengatakan “piece of cake” padahal tidak ada kue di sekitar Anda? Atau merasa heran ketika seseorang menyebut “darah biru” untuk menjelaskan status sosial? Selamat, Anda baru saja bersinggungan dengan idiom.
Idiom bukan sekadar hiasan dalam tata bahasa; ia adalah jiwa dari sebuah bahasa. Memahami idiom berarti memahami budaya, sejarah, dan cara berpikir masyarakat penuturnya. Artikel ini akan mengupas tuntas pengertian idiom, jenis-jenisnya secara mendalam, serta strategi berbasis data untuk menguasainya.
Apa Itu Idiom? Definisi dan Esensi Linguistik
Secara linguistik, idiom adalah konstruksi kata yang maknanya tidak dapat dipahami secara literal dari elemen-elemen penyusunnya. Menurut pakar linguistik Fernando (1996), idiom memiliki tiga karakteristik utama: komposisitas rendah (makna gabungan tidak sama dengan makna kata per kata), stabilitas (struktur kata cenderung tetap), dan fungsi komunikatif yang spesifik.
Dalam bahasa Indonesia, KBBI mendefinisikan idiom sebagai konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya. Misalnya, “meja hijau” tidak berarti meja yang dicat warna hijau, melainkan pengadilan.
Mengapa Idiom Penting?
Data dari Cambridge English menunjukkan bahwa penggunaan idiom yang tepat merupakan salah satu indikator utama tingkat kemahiran bahasa (C1-C2 pada skala CEFR). Idiom memberikan nuansa emosional dan efisiensi komunikasi yang tidak bisa dicapai oleh bahasa formal yang kaku.
Klasifikasi Jenis-Jenis Idiom
Memahami jenis idiom membantu kita memetakan cara mempelajarinya. Secara umum, idiom dapat dikategorikan berdasarkan kedekatan maknanya dengan kata penyusunnya:
1. Idiom Penuh (Transparent vs. Opaque)
- Idiom Opak (Opaque): Maknanya benar-benar terputus dari kata asalnya. Contoh: Kick the bucket (meninggal). Tidak ada kaitan logis antara “menendang ember” dengan kematian tanpa memahami sejarahnya.
- Idiom Transparan: Masih memiliki jejak logika dari kata penyusunnya. Contoh: Backbone (tulang punggung/pendukung utama).
2. Idiom Berdasarkan Unsur Pembentuk
Dalam bahasa Indonesia, kita sering menemui pembagian berdasarkan kata yang mendominasi:
- Idiom Hewan: Kambing hitam (orang yang disalahkan), buaya darat (laki-laki tidak setia).
- Idiom Anggota Tubuh: Berat hati (tidak tega), tangan kanan (orang kepercayaan).
- Idiom Warna: Darah biru (bangsawan), lapangan hijau (stadion sepak bola).
3. Idiom Berdasarkan Struktur Gramatikal
Idiom juga bisa berbentuk frasa kata kerja (phrasal verbs dalam bahasa Inggris) atau pepatah yang membeku strukturnya.
Daftar Contoh Idiom Populer dan Maknanya
Berikut adalah tabel referensi idiom dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sering muncul dalam percakapan profesional maupun sehari-hari:
| Idiom (Bahasa Indonesia) | Makna Literal | Makna Idiomatik |
| Gulung Tikar | Melipat alas tidur | Bangkrut / Usaha tutup |
| Rendah Hati | Posisi hati yang bawah | Tidak sombong |
| Naik Pitam | Darah naik ke kepala | Marah besar |
| Kutu Buku | Serangga di buku | Orang yang sangat gemar membaca |
| Idiom (Bahasa Inggris) | Makna Literal | Makna Idiomatik |
| Under the weather | Di bawah cuaca | Merasa kurang sehat |
| Break a leg | Mematahkan kaki | Semoga sukses (Good luck) |
| Spill the beans | Menumpahkan kacang | Membongkar rahasia |
| Once in a blue moon | Sekali saat bulan biru | Sangat jarang terjadi |
Mengapa Mempelajari Idiom Terasa Sulit?
Banyak pembelajar bahasa terjebak dalam penerjemahan harfiah. Menurut studi dalam Journal of Psycholinguistic Research, otak manusia secara alami mencoba memproses kata secara literal terlebih dahulu sebelum mencari makna kiasan.
Hambatan utama lainnya adalah konteks budaya. Idiom seringkali berakar pada sejarah yang sudah terlupakan. Misalnya, idiom Inggris “Barking up the wrong tree” berasal dari tradisi berburu anjing di Amerika abad ke-19. Tanpa pengetahuan sejarah ini, frasa tersebut terdengar absurd.
Strategi Efektif Mempelajari Idiom (Berdasarkan Sains)
Menghafal daftar idiom secara alfabetis adalah cara yang membosankan dan tidak efisien. Gunakan metode berikut untuk hasil yang lebih permanen:
1. Metode Pengelompokan Tematik (Thematic Grouping)
Otak manusia lebih mudah mengingat informasi yang saling berhubungan. Kelompokkan idiom berdasarkan tema, bukan huruf depan.
- Minggu ini: Fokus pada idiom tentang “Waktu”.
- Minggu depan: Fokus pada idiom tentang “Emosi”.
2. Teknik Jembatan Keledai dan Visualisasi
Karena idiom seringkali bersifat visual, buatlah gambaran mental yang lucu atau aneh. Untuk idiom “cold feet” (ragu-ragu/takut), bayangkan seseorang yang berdiri di atas es sehingga kakinya membeku dan tidak bisa melangkah maju ke pelaminan.
3. Pelajari Lewat Konteks (Contextual Learning)
Jangan hanya membaca kamus idiom. Tontonlah film, dengarkan podcast, atau baca artikel berita. Saat Anda menemukan idiom dalam percakapan nyata, otak akan mencatat frekuensi dan situasi penggunaannya secara lebih mendalam.
4. Spaced Repetition System (SRS)
Gunakan aplikasi seperti Anki atau Quizlet untuk mengulang idiom pada interval waktu tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa pengulangan yang berjarak jauh lebih efektif daripada cramming (belajar sistem kebut semalam).
Idiom dalam Dunia Profesional
Dalam lingkungan kerja global, penggunaan idiom yang tepat dapat membangun rapport (kedekatan) dengan rekan kerja. Namun, hati-hati! Penggunaan yang salah atau berlebihan justru bisa memicu miskomunikasi.
- Do: Gunakan idiom yang umum dan “aman” seperti “on the same page” (sepaham) atau “hit the ground running” (mulai bekerja dengan cepat).
- Don’t: Menggunakan idiom yang terlalu kedaerahan atau sangat informal dalam presentasi resmi kepada klien internasional yang mungkin bukan penutur asli.
Kesimpulan: Bahasa Adalah Refleksi Budaya
Idiom adalah bukti bahwa bahasa bersifat dinamis dan hidup. Ia bukan sekadar aturan subjek-predikat, melainkan cerminan dari pengalaman kolektif manusia. Dengan menguasai idiom, Anda tidak hanya belajar bicara, tetapi belajar merasakan bahasa tersebut.
Ingatlah bahwa kefasihan tidak dicapai dalam semalam. Seperti pepatah, “Rome wasn’t built in a day”. Teruslah bereksperimen, jangan takut salah, dan nikmati proses menemukan makna-makna unik di balik setiap kata.
![]()
