Bagi penulis yang sedang mencari “suara” (voice) mereka sendiri, memahami dua kutub gaya bahasa ini sangat krusial:
- Spektrum Gaya: Dee Lestari mewakili gaya “Arsitek Musikal”—terstruktur, riset mendalam yang puitis, dan diksi yang ‘wangi’. Sementara Eka Kurniawan adalah “Pendongeng Liar”—mentah, mengejutkan, dan mengadopsi tradisi lisan yang absurd.
- Kunci Flow: Dee membangun flow lewat Irama (Cadence) yang menghipnotis (seperti lagu). Eka membangun flow lewat Kejutan (Shock Value) dan narasi yang melompat lincah (seperti dongeng).
- Penerapan: Artikel ini tidak mencari siapa yang lebih baik, melainkan teknik mana yang bisa Anda curi (“ATM” – Amati Tiru Modifikasi) untuk naskah Anda sendiri, apakah itu fiksi ilmiah, romansa, atau realisme magis.
Di lanskap sastra Indonesia modern, ada dua nama yang sering dianggap sebagai “kiblat” teknis bagi penulis pemula: Dewi ‘Dee’ Lestari dan Eka Kurniawan.
Keduanya memiliki basis penggemar fanatik dan kualitas literasi yang tak terbantahkan. Namun, jika dibedah di meja operasi editorial, teknik mereka dalam mengalirkan cerita (flow) ibarat minyak dan air. Berbeda total, namun sama-sama mematikan.
Bagi Anda yang naskahnya terasa “macet” atau “kaku”, mari kita bedah mesin narasi mereka untuk melihat sekrup mana yang bisa Anda pasang di tulisan Anda sendiri.
1. Dee Lestari: Flow sebagai Komposisi Musik
Dee Lestari tidak hanya menulis; dia “mengomposisi” kalimat. Latar belakangnya sebagai musisi sangat memengaruhi cara dia menyusun paragraf.
A. Diksi yang “Wangi” dan Resonan
Ciri khas Dee adalah penggunaan kata-kata yang jarang dipakai tapi terdengar indah (euphony). Dia tidak sekadar memilih kata, tapi memilih bunyi.
Definisi Teknis:
Euphony (Eufoni): Kualitas bunyi kata yang terdengar menyenangkan, harmonis, dan melodius saat dibaca dalam hati maupun dilisankan.
Dalam Aroma Karsa atau seri Supernova, Dee sering menggunakan metafora yang menggabungkan sains dan spiritualitas. Flow-nya terasa seperti sungai yang tenang namun menghanyutkan. Pembaca dibuat masuk ke dalam trance (keadaan trans) karena kalimatnya yang rapi, berima, dan minim “gangguan”.
B. “Info-Dump” yang Menjadi Seni
Kelemahan banyak penulis pemula adalah saat memasukkan data riset, tulisan jadi membosankan (info-dumping). Dee adalah master dalam menyembunyikan riset di balik narasi. Dia menjelaskan konsep biologi, arkeologi, atau fisika kuantum bukan sebagai kuliah dosen, tapi sebagai bagian dari pergulatan batin karakter.
Insight untuk Penulis:
Jika Anda menulis cerita yang berat riset (Sci-Fi, Sejarah), curilah teknik Dee: Jadikan fakta ilmiah sebagai metafora perasaan karakter.
2. Eka Kurniawan: Flow sebagai Dongeng Liar
Jika Dee adalah musik orkestra yang rapi, Eka Kurniawan adalah musik punk rock atau dangdut pantura yang jujur, kasar, dan menghentak.
A. Kalimat Pembuka yang Menampar (The Hook)
Eka tidak suka basa-basi. Dia dikenal dengan kalimat pembuka yang langsung mencekik leher pembaca.
Contoh legendaris dari Cantik Itu Luka:
“Sore itu, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.”
Tidak ada deskripsi cuaca, tidak ada pengantar filosofis. Langsung aksi. Flow Eka Kurniawan dibangun di atas rasa penasaran dan absurditas. Dia memaksa pembaca membalik halaman karena ingin tahu: “Gila, apa lagi yang akan terjadi setelah ini?”
B. Estetika “Grotesque” dan Tradisi Lisan
Eka banyak terinspirasi dari cerita silat dan dongeng nenek moyang. Bahasanya seringkali vulgar, blak-blakan, dan menabrak norma kesopanan sastra lama (“Sastra Wangi”). Namun, di situlah letak kekuatannya.
Definisi Teknis:
Grotesque (Grotesk): Gaya seni yang menonjolkan hal-hal aneh, jelek, atau menjijikkan secara berlebihan namun justru memikat karena mendobrak batas realitas.
Insight untuk Penulis:
Jika naskah Anda terasa membosankan, cobalah teknik Eka: Hancurkan ekspektasi pembaca. Jangan takut menulis hal yang tabu atau “jijik”, asalkan itu relevan dengan cerita. Flow tidak harus mulus; flow bisa berupa guncangan yang konstan.
3. Perbandingan Mekanik: Struktur Kalimat (Syntax)
Di sinilah perbedaan teknis mereka paling terlihat jelas saat kita membedah satu paragraf utuh.
| Fitur Teknis | Dee Lestari (Gaya Arsitek) | Eka Kurniawan (Gaya Pendongeng) |
| Panjang Kalimat | Variatif & Ritmik (Pendek-Panjang-Pendek). Dijaga agar ada “nafas”. | Seringkali kalimat majemuk bertingkat yang sangat panjang (seperti orang bercerita tanpa jeda), atau kalimat tunggal yang sangat pendek. |
| Penggunaan Koma | Presisi. Koma digunakan untuk mengatur tempo baca. | Koma digunakan untuk menumpuk detail kejadian (akumulatif). |
| Deskripsi | Multisensory (Bau, Suara, Tekstur). Sangat detail pada setting. | Fokus pada Aksi dan Dampak. Deskripsi visual seringkali surealis. |
| Dialog | Cerdas, filosofis, kadang terasa “terlalu pintar” untuk orang awam. | Natural, kasar, membumi, seringkali berisi umpatan atau humor gelap. |
4. Mana yang Harus Anda Tiru?
Jawabannya: Tergantung Genre dan Tujuan Anda.
Gunakan Teknik Dee Lestari Jika:
- Anda menulis Romansa, Fiksi Ilmiah, atau Spiritual.
- Target pembaca Anda menyukai perenungan dan bahasa yang indah.
- Anda ingin naskah yang terasa “mahal”, rapi, dan sinematik.
Gunakan Teknik Eka Kurniawan Jika:
- Anda menulis Satire, Misteri, Horror, atau Literary Fiction yang berat.
- Target pembaca Anda bosan dengan cerita yang “manis-manis”.
- Anda ingin naskah yang memukul, memprovokasi, dan meninggalkan kesan mendalam yang tidak nyaman.
5. Eksperimen Hibrida (Hybrid Style)
Di tahun 2026, tren penerbitan mulai melihat munculnya penulis “Hibrida”. Bayangkan sebuah novel dengan riset mendalam dan bahasa puitis ala Dee, tapi memiliki plot yang liar dan brutal ala Eka.
Inilah yang dicari editor saat ini: Penulis yang bisa menari dengan kata-kata (Dee) tapi berani menonjok dengan cerita (Eka).
Kesimpulan: Menemukan Suara Sendiri
Mempelajari Dee dan Eka bukan untuk menjadi copycat (peniru) mereka. Analisis ini bertujuan agar Anda sadar bahwa “Flow” bisa diciptakan dengan dua cara: Melalui Keteraturan (Order) atau Melalui Kekacauan (Chaos).
Naskah Anda saat ini, condong ke mana?
Jika Anda sudah menemukan gaya unik Anda sendiri—entah itu mirip Dee, Eka, atau perpaduan keduanya—langkah selanjutnya adalah mengujinya di pasar. Jangan biarkan naskah itu tersimpan di laptop.
Siap Menerbitkan Karya Unik Anda?
Di [Nama Penerbit Anda], kami tidak membatasi gaya penulisan. Kami menerima naskah surealis, romansa puitis, hingga thriller yang brutal. Konsultasikan naskah Anda hari ini, dan biarkan kami membantu Anda menemukan pembaca yang tepat.
FAQ: Pertanyaan Seputar Gaya Penulisan
Q: Apakah gaya bahasa Eka Kurniawan cocok untuk penulis pemula?
A: Hati-hati. Gaya Eka terlihat “sembarangan”, padahal membutuhkan penguasaan struktur logika yang sangat kuat. Jika pemula meniru tanpa dasar, tulisan malah jadi berantakan dan kasar tanpa makna. Mulailah dengan struktur standar (SPOK) sebelum bereksperimen.
Q: Bagaimana cara melatih “Diksi Wangi” ala Dee Lestari?
A: Perbanyak membaca kamus tesaurus dan puisi. Jangan gunakan kata “sedih” jika Anda bisa menggunakan “pedih”, “nelangsa”, atau “duka”. Tapi ingat, jangan berlebihan (bombastis) hingga pesan cerita tertutup kata-kata sulit.
Q: Apa itu “Show, Don’t Tell” dan siapa yang lebih sering memakainya?
A: Show Don’t Tell adalah teknik menunjukkan perasaan lewat aksi/indera, bukan penjelasan. Dee Lestari sangat disiplin menggunakan ini dalam deskripsi setting. Eka Kurniawan justru sering melanggar aturan ini dengan teknik Telling yang kuat (gaya dongeng), dan itu sah-sah saja dalam gayanya.
Q: Genre apa yang paling laku di 2026?
A: Tren 2026 menunjukkan kebangkitan genre Speculative Fiction (seperti Supernova) dan Local Horror (seperti karya Eka). Pembaca mencari cerita lokal dengan kemasan global.
![]()
