PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI RUANG DIGITAL

Penerbit KBM

PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI RUANG DIGITAL

Rp 0

NAMA PENULIS : Yornan Masinambow, Marde Christian Stenly Mawikere, Cleopatriza Th.F Ruhulessin, Yoel Giban, Heri Kristian, Stefanus Christianto Yuwono, Hendrik Legi
ISBN : Proses
JUMLAH HALAMAN : 199 halaman
UKURAN : 15,5 x 23
SINOPSIS : Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan mendasar dalam cara manusia berkomunikasi, belajar, dan membangun relasi sosial. Ruang digital tidak lagi sekadar sarana teknologi, tetapi telah menjadi lingkungan hidup baru yang membentuk cara berpikir, nilai, serta spiritualitas generasi masa kini. Dalam konteks tersebut, Pendidikan Agama Kristen (PAK) menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan pendekatan pedagogis yang relevan dengan realitas kehidupan digital. Buku Pendidikan Agama Kristen di Ruang Digital hadir sebagai refleksi akademik yang berusaha menelaah relasi antara iman Kristen, pendidikan, dan dinamika budaya digital secara kritis, teologis, dan kontekstual.
Buku ini diawali dengan pembahasan mengenai fenomena budaya digital melalui kajian tentang reels dan scrolling dalam perspektif pendidikan Kristiani. Fenomena tersebut menggambarkan bagaimana generasi digital mengonsumsi informasi secara cepat, visual, dan fragmentaris. Pola ini memengaruhi cara belajar, cara memahami kebenaran, serta cara generasi muda memaknai pengalaman religius mereka. Oleh sebab itu, Pendidikan Agama Kristen ditantang untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu menjembatani kedalaman iman dengan pola komunikasi digital yang terus berubah. Selanjutnya, buku ini membahas rekonstruksi teologis mengenai hakikat kehadiran dan peran transformasional sekolah Kristen dalam konteks pendidikan di ruang digital. Sekolah Kristen tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai komunitas pembentukan iman yang menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam proses pendidikan. Dalam ruang digital yang semakin kompleks, lembaga pendidikan Kristen dipanggil untuk tetap menjadi agen transformasi yang membentuk karakter, integritas moral, serta kedewasaan spiritual peserta didik.
Kajian tentang spiritualitas cyber dalam buku ini juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak hanya memengaruhi metode pembelajaran, tetapi juga memengaruhi cara manusia mengalami dan mengekspresikan spiritualitas. Ruang digital dapat menjadi sarana pertumbuhan iman apabila digunakan secara bijaksana, tetapi juga dapat menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan spiritual apabila tidak disertai dengan kedewasaan teologis dan etis. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Kristen memiliki tanggung jawab untuk membimbing generasi digital agar mampu mengintegrasikan iman mereka dengan kehidupan digital secara kritis dan bertanggung jawab. Buku ini juga mengangkat pendekatan kontekstual melalui kajian etnoteologi dalam platform digital. Perspektif ini menekankan pentingnya memahami realitas budaya lokal dalam proses pendidikan iman. Dalam ruang digital yang bersifat global, nilai-nilai lokal dan kearifan budaya tetap memiliki peran penting dalam membentuk identitas iman yang kontekstual. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen tidak hanya berorientasi pada penyampaian doktrin, tetapi juga pada dialog antara iman, budaya, dan realitas sosial.
Pembahasan mengenai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam pendidikan Kristen juga menjadi bagian penting dari refleksi buku ini. Pertanyaan tentang apakah teknologi digital merupakan ancaman atau justru rekan dalam misi Pendidikan Agama Kristen membuka ruang diskusi yang kritis. Teknologi dapat menjadi sarana yang memperkaya proses pembelajaran apabila digunakan dengan landasan etika dan spiritualitas yang kuat. Oleh karena itu, PAK perlu mengembangkan literasi digital yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknologi, tetapi juga pada kebijaksanaan moral dalam memanfaatkannya. Selain itu, buku ini juga mengangkat analisis filosofis mengenai relasi antara logos dan pseudologos dalam era post-truth. Dalam ruang digital yang dipenuhi oleh arus informasi yang cepat dan sering kali tidak terverifikasi, persoalan kebenaran menjadi isu yang sangat penting. Pendidikan Agama Kristen dipanggil untuk meneguhkan kembali fondasi kebenaran yang berakar pada firman Tuhan sekaligus membentuk kemampuan berpikir kritis pada peserta didik agar mampu membedakan antara kebenaran dan manipulasi informasi. Buku ini ditutup dengan refleksi dengan pertanyaan mendasar mengenai sikap iman di ruang digital: apakah manusia semakin meragukan iman atau justru menemukan cara baru untuk menghidupinya. Pertanyaan ini menjadi refleksi teologis yang penting bagi dunia pendidikan Kristen. Di tengah kompleksitas dunia digital, iman Kristen dipanggil untuk tetap menjadi sumber pengharapan, hikmat, dan transformasi bagi kehidupan manusia.
Melalui berbagai kajian yang disajikan, buku ini berupaya memberikan kontribusi bagi pengembangan pemikiran teologi pendidikan Kristen yang kontekstual dengan perkembangan teknologi digital. Buku ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi, pendidik, mahasiswa teologi, serta para pelayan gereja dalam memahami dan mengembangkan Pendidikan Agama Kristen yang relevan, reflektif, dan transformatif di tengah perubahan zaman

Ready Stock (1 unit)

Ulasan Pembeli (0)

0.0

Belum ada ulasan untuk produk ini. Jadilah yang pertama memberikan ulasan!

Tulis Ulasan

Bagikan pengalaman Anda tentang produk ini untuk membantu pembeli lain.

Harga
Rp 0
Tanya WhatsApp