PENGANTAR STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL : Perspektif Indonesia

Penerbit KBM

PENGANTAR STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL : Perspektif Indonesia

Rp 0

NAMA PENULIS : Muhammad Iqbal Yunazwardi, Ahmad Mujaddid Fachrurreza, Sabda Ningsih, Ridha Amalia, Ahmad Nurcholis, Larasati, I Kadek Andre Nuaba, Yulia Rimapradesi, Bagaskara Sagita Wijaya, Larassita Damayanti, Zhillan Zhalila Fahlevi, Roy Setiawan, Syuryansyah, Arina Nihayati, Yulia Rimapradesi & Muhammad Aditya Purnomo
ISBN : Proses
JUMLAH HALAMAN : 460 Halaman
UKURAN : 15,5 x 23 CM
Sinopsis : Pada 18 April 1955, delegasi dari 29 negara Asia dan Afrika berkumpul di Gedung Merdeka, Bandung. Dalam banyak buku teks Hubungan Internasional (HI), Konferensi Asia-Afrika kerap hanya menjadi catatan pinggir dalam narasi besar Perang Dingin. Namun, bagi Indonesia, peristiwa itu adalah momen ketika bangsa-bangsa yang baru merdeka tampil bukan sebagai objek yang dijelaskan oleh teori, melainkan sebagai subjek yang merumuskan gagasannya sendiri tentang tatanan dunia yang lebih adil. Semangat inilah yang melatarbelakangi lahirnya buku Pengantar Studi Hubungan Internasional: Perspektif Indonesia.
Selama ini, mahasiswa HI di Indonesia lebih akrab dengan konsep-konsep yang lahir dari pengalaman Eropa dan Amerika Utara, seperti keseimbangan kekuatan dan anarki sistem internasional. Konsep-konsep tersebut tetap penting dan dibahas secara memadai dalam buku ini. Akan tetapi, pengalaman Indonesia sering kali hanya hadir sebagai contoh yang membenarkan teori yang sudah mapan. Buku ini mencoba membalik arah pandang tersebut. Kami mengajak pembaca melihat HI melalui kacamata Indonesia, yaitu dengan menelusuri bagaimana pengalaman empiris aktor-aktor HI Indonesia, mulai dari negarawan, diplomat, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, hingga pekerja migran, memunculkan gagasan-gagasan keindonesiaan dalam pembelajaran HI. Pidato Mohammad Hatta, "Mendayung antara Dua Karang", pada 1948, misalnya, tidak hanya dibaca sebagai respons terhadap rivalitas dua blok, tetapi juga sebagai cikal bakal cara berpikir bebas aktif yang lahir dari dilema konkret sebuah negara yang baru berdiri. Dengan cara ini, keindonesiaan tidak dimaknai sebagai sikap menutup diri terhadap teori-teori global, melainkan sebagai titik berangkat untuk berdialog secara kritis dengannya.

Ready Stock (1 unit)

Ulasan Pembeli (0)

0.0

Belum ada ulasan untuk produk ini. Jadilah yang pertama memberikan ulasan!

Tulis Ulasan

Bagikan pengalaman Anda tentang produk ini untuk membantu pembeli lain.

Harga
Rp 0
Tanya WhatsApp