| Buku ini lahir dari kegelisahan intelektual terhadap salah satu persoalan paling mendasar dalam wacana keislaman kontemporer, yaitu relasi antara kebebasan individu dan otoritas keagamaan. Di berbagai ruang kehidupan Muslim, kebebasan personal kerap berhadapan dengan intervensi otoritas agama, baik melalui fatwa, lembaga keagamaan, maupun praktik sosial yang bersifat mengikat dan normatif.
Berangkat dari persoalan tersebut, buku ini berupaya mengungkap dan menjelaskan konsep kebebasan dalam Islam sebagaimana dipikirkan oleh Mustafa Akyol, seorang pemikir Muslim kontemporer yang secara konsisten memperjuangkan kebebasan individu dalam kerangka keimanan. Kajian ini menelusuri ruang-ruang di mana kebebasan dan otoritas keagamaan saling berjumpa, berseberangan, bahkan berpotensi untuk dipertemukan secara konstruktif.
Kajian ini menggunakan teori kebebasan dan self-ownership dari Robert Nozick sebagai pisau analisis, serta melakukan analisis isi terhadap karya-karya utama Mustafa Akyol, seperti Reopening Muslim Minds, Islam without Extremes, dan Why, as a Muslim, I Defend Liberty. Melalui pembacaan kritis atas karya-karya tersebut, Akyol menawarkan model pemikiran Islam yang lebih rasional dan terbuka, yang menempatkan otonomi individu sebagai fondasi penting dalam kehidupan beragama. Dalam pandangan Akyol, setiap individu memiliki hak atas dirinya sendiri, hak untuk berpikir, meyakini, menafsirkan, dan mengekspresikan pandangan keagamaannya tanpa intervensi otoritas yang bersifat memaksa.
Pembahasan dalam buku ini menegaskan bahwa perdebatan mengenai kebebasan dan otoritas dalam Islam bukanlah persoalan sederhana. Ia merupakan medan dialektika yang terus bergerak, bergantung pada pertemuan antara rasionalitas, syariah, konteks sosial, serta tuntutan zaman. |