Kelahiran IMM pernah sempat dipersoalkan, hingga bahkan dianggap tidak perlu ada. Namun seiring berjalannya waktu, hal itu pun dapat dibantah dan menegaskan bahwa kelahiran IMM adalah sebagai keharusan sejarah. Buktinya, IMM hari ini telah menjadi rumah sebagai tempat berproses bagi banyak kader. Oleh karenanya, dari kelahiran yang dipersoalkan kini menjadi kelahiran yang dirayakan.
Namun bukan berarti IMM sedang baik-baik saja. Masih banyak PR di dalam ikatan yang memerlukan diskursus lebih lanjut agar organisasi ini dapat mewujudkan tujuannya. Oleh karenanya, buku ini ditulis dengan maksud meramaikan wacana tersebut. Ada banyak isu yang ditawarkan, mulai dari kaderisasi, ekologi, filsafat, manajemen organisasi, gender, keagamaan, dsb.
Bagaimana masa depan ikatan di hadapan teknologi dan disrupsi? Sejauh mana dakwah digital kita? Perlukah kita membubarkan Bidang Immawati? Sejauh mana creative minority mampu kita wujudkan? Sejauh mana literasi dan kultur riset kita? Bagaimana sikap kita di tengah matinya kepakaran? Bagaimana mewarnai demokrasi di tengah kultur penjilatan? Apa yang sudah dirancang ikatan untuk berpartisipasi mewujudkan Indonesia Emas? Serta masih banyak lagi kegelisahan yang akan diskusikan di buku ini.