Memahami Orientasi Kaum Pelangi adalah sebuah buku reflektif-edukatif yang mengajak pembaca menelaah isu homoseksualitas secara lebih jernih, manusiawi, dan bertanggung jawab di tengah masyarakat beragama. Di saat perdebatan tentang LGBT sering terjebak pada stigma, emosi, dan penghakiman, buku ini menawarkan pendekatan yang berbeda: memahami sebelum menilai.
Ditulis dari persimpangan antara ilmu pengetahuan, iman, dan kemanusiaan, buku ini menjelaskan secara sistematis perbedaan penting antara orientasi seksual, perilaku seksual, identitas diri, dan ekspresi gender—sebuah distingsi yang kerap disalahpahami dan menjadi akar stigma di masyarakat. Dengan rujukan ilmiah yang sahih, pembaca diajak memahami bahwa orientasi seksual bukanlah pilihan sadar dan bukan pula gangguan mental, sebagaimana telah ditegaskan oleh dunia kedokteran dan psikologi modern.
Namun buku ini tidak berhenti pada sains. Di dalamnya, pembaca juga diajak memasuki ruang iman dan moralitas, menelaah bagaimana agama-agama memandang homoseksualitas, serta bagaimana nilai kasih, akhlak, dan martabat manusia seharusnya hadir dalam menyikapi perbedaan. Tanpa berusaha mengubah keyakinan pembaca, buku ini menegaskan bahwa memahami realitas manusia tidak harus berarti mengingkari iman.
Melalui kisah-kisah nyata individu dan keluarga yang hidup di balik stigma, buku ini memperlihatkan dampak psikologis, sosial, dan spiritual dari penolakan—serta bagaimana penerimaan, bahkan yang disertai kebingungan, dapat menjadi ruang penyembuhan. Di bagian akhir, buku ini menawarkan langkah-langkah praktis bagi keluarga, sekolah, tempat kerja, tenaga kesehatan, dan masyarakat agar dapat membangun lingkungan yang lebih aman, beradab, dan berbelas kasih.
Buku ini tidak meminta pembaca untuk menyetujui semua pandangan. Buku ini hanya mengajak satu hal sederhana namun mendasar: melihat manusia sebagai manusia—sebelum label, sebelum stigma, dan sebelum penghakiman