| Dalam lanskap dunia yang kian terdigitalisasi, termobilisasi, dan terglobalisasi, budaya dan pariwisata tidak lagi dapat dipisahkan. Keduanya menjalin hubungan dialektis yang saling membentuk: budaya menjadi substansi daya tarik wisata, sementara pariwisata menjadi ruang sirkulasi, negosiasi, dan bahkan transformasi budaya. Buku ini menyajikan kerangka konseptual dan praktik reflektif untuk memahami simpul hubungan tersebut secara utuh dan kritis.
Merajut Dialektika Budaya dan Pariwisata menghimpun sembilan bab yang disusun secara sistematis: mulai dari teori budaya lintas negara, fondasi keilmuan pariwisata, pendekatan keberlanjutan, hingga studi kasus lokal Minangkabau dan refleksi global dari transformasi identitas Jerman. Kontribusi buku ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga praktis—memberikan wawasan bagi pengambil kebijakan, pelaku industri, komunitas lokal, serta mahasiswa di bidang budaya, pariwisata, dan pendidikan vokasi.
Ditulis oleh para dosen, peneliti, dan praktisi dari berbagai institusi, buku ini menawarkan dialektika lintas perspektif—lokal dan global, klasik dan kontemporer, teoritis dan aplikatif. Sebuah referensi penting di tengah tuntutan pariwisata masa kini yang menuntut tidak hanya profitabilitas, tetapi juga keberlanjutan, keadaban, dan kearifan budaya. |