Mengapa banyak pernikahan dimulai dengan cinta, tetapi perlahan kehilangan arah?
Mengapa dua orang yang berjanji untuk saling mengasihi justru sering terluka oleh harapan, perbedaan, dan luka masa lalu yang tak pernah disembuhkan?
Saat Aku Menjadi Kita mengajak pembaca menelusuri kembali makna pernikahan sejak dari pertanyaan paling mendasar: mengapa kita menikah? Buku ini tidak berhenti pada romantisme atau persiapan pesta, melainkan menuntun pembaca memahami pernikahan sebagai rancangan Allah—sebuah perjalanan penyatuan dua pribadi yang berbeda untuk bertumbuh bersama dalam kasih dan kebenaran.
Melalui delapan bab yang saling terhubung, buku ini membahas bagaimana pernikahan bukan sekadar relasi pasangan, tetapi persekutuan hidup yang memiliki tujuan ilahi. Pembaca diajak memahami arti “penolong yang sepadan”, membangun fondasi rumah tangga yang kokoh sebelum dan sesudah menikah, serta menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan keluarga—melalui doa, firman, dan komitmen yang tidak mudah goyah.
Buku ini juga dengan jujur menyingkap dinamika awal pernikahan: harapan yang sering kali tidak realistis, perbedaan temperamen dan karakter, hingga pilihan sulit antara bertahan atau menyerah. Tanpa menghakimi, penulis menolong pembaca melihat perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang pertumbuhan dan penyesuaian diri yang membentuk kedewasaan kasih.
Tidak menghindari realitas yang menyakitkan, Saat Aku Menjadi Kita mengulas luka-luka batin dan kepahitan masa lalu yang kerap terbawa ke dalam pernikahan—serta bagaimana penyembuhan sejati dapat terjadi ketika pernikahan dijalani sebagai tempat pemulihan, bukan pelarian. Peran kehidupan rohani dan komunitas orang percaya juga ditekankan sebagai bagian penting dalam proses pemulihan dan pertumbuhan pasangan.
Di bagian akhir, buku ini membahas tantangan hubungan dengan keluarga besar, prinsip Alkitabiah tentang “meninggalkan dan bersatu”, serta pentingnya menetapkan batas yang sehat demi menjaga keutuhan pernikahan tanpa memutus relasi.
Ditulis dengan bahasa yang membumi, reflektif, dan relevan dengan realitas pernikahan masa kini, buku ini ditujukan bagi mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan, pasangan muda yang sedang beradaptasi, maupun suami-istri yang rindu kembali menemukan makna kita di tengah pergumulan.
Karena pernikahan bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna, melainkan tentang dua pribadi yang bersedia diubahkan— hingga aku dengan rela belajar menjadi kita.