| Di tengah dunia marketing modern yang dipenuhi teknik, tools, dan tuntutan “harus cepat”, buku Strategi Marketing Berbasis Waktu dan Kesadaran mengajak pembaca kembali ke satu hal yang sering dilupakan: timing. Buku ini menegaskan bahwa strategi sehebat apa pun bisa terasa “kosong” bila dijalankan di waktu yang salah—karena marketing bukan hanya soal apa yang dilakukan, tapi kapan melakukannya.
Melalui pendekatan “membaca momentum”, pembaca diajak memahami bahwa pasar bukan sekadar angka, melainkan gelombang emosi dan kebutuhan manusia. Anda akan belajar mendeteksi getaran pasar: sinyal-sinyal halus dari percakapan, bahasa, tren, dan respons publik—yang sering muncul lebih dulu daripada data. Dari sana, buku ini memandu cara membedakan waktu sensitif dan waktu potensial, termasuk kapan promosi sebaiknya ditahan, kapan sebaiknya bicara, dan bagaimana menyusun Kalender Momentum Sosial—kalender yang tidak hanya berisi tanggal, tetapi “rasa” publik sepanjang tahun.
Buku ini juga membongkar kesalahan umum brand yang ingin “panen” terlalu cepat, lalu menawarkan kerangka kampanye berbasis fase alami: Tanam – Rawat – Tunggu – Petik. Anda akan diajak menyusun campaign yang lebih manusiawi, tidak memaksa, dan lebih mudah diterima karena mengikuti kesiapan psikologis audiens. Lalu, pembahasan mengalir ke praktik membuat konten yang menyentuh: bukan sekadar bentuk, tapi rasa + timing, termasuk copywriting berbasis momentum yang membuat kata sederhana terasa “kena” karena hadir di momen yang tepat.
Yang membuat buku ini terasa berbeda adalah penekanan bahwa momentum bukan hanya eksternal, tapi juga internal: energi penjual, kesiapan mental, dan ritme tim. Anda akan memahami bagaimana pesan yang sama bisa terdengar berbeda tergantung energi yang dibawa, serta bagaimana tim marketing membangun ritme agar tidak burnout dan tahu kapan “menunggu” dan kapan “meledak bersama”.
Menuju akhir, buku ini mengajak pembaca naik level menjadi The Momentist Marketer: pribadi/brand yang tidak selalu muncul, tapi selalu dinanti—membangun kredibilitas dari nilai dan relevansi, bukan sekadar frekuensi posting. Pembahasan kemudian dipraktikkan secara konkret pada iklan media sosial: bagaimana iklan yang peka pada momen bisa terasa “menyapa” bukan “berteriak”, dilengkapi checklist perencanaan agar momentum bisa dicatat, dipelajari, dan diulang menjadi kekuatan brand.
Pada akhirnya, buku ini menutup dengan pesan inti: lebih baik tidak tergesa—karena kemenangan sering datang bukan kepada yang paling cepat, tetapi kepada yang paling tepat dan paling sadar saat melangkah. |