The Power Show: Brand, Citra, Dan Dramaturgi Kekuasaan adalah sebuah karya yang mengupas secara kritis bagaimana kekuasaan dalam dunia politik, khususnya di Indonesia, tidak hanya dijalankan melalui kebijakan dan keputusan, tetapi juga melalui pertunjukan, pencitraan, dan simbolisme. Buku ini membongkar dinamika kekuasaan sebagai sebuah panggung besar, di mana para pemimpin dan aktor politik memainkan peran, memanfaatkan media, dan membangun citra demi memperoleh serta mempertahankan legitimasi.
Berangkat dari teori dramaturgi Erving Goffman hingga studi komunikasi politik kontemporer, buku ini menguraikan bagaimana branding politik, simbol, ritual kenegaraan, hingga mitologi pemimpin menjadi instrumen penting dalam mengonstruksi realitas politik. Pembaca diajak menelusuri perjalanan panjang politik Indonesia sejak era Soekarno, masa Orde Baru, Reformasi, hingga era digital yang ditandai dengan dominasi media sosial, algoritma, dan fenomena viral.
Buku ini tidak hanya menawarkan deskripsi, tetapi juga analisis kritis mengenai risiko politik pencitraan, seperti munculnya populisme dangkal, kultus individu, hingga manipulasi informasi melalui propaganda, hoaks, dan spin doctor. Lebih jauh, buku ini mengajukan refleksi mendalam tentang etika komunikasi politik serta masa depan kekuasaan di tengah perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, dan deepfake.
Dengan menyajikan studi kasus dari Indonesia dan dunia, buku ini relevan bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, jurnalis, praktisi politik, dan masyarakat umum yang ingin memahami bagaimana kekuasaan bekerja di balik layar dan bagaimana pertunjukan politik membentuk persepsi publik. Pada akhirnya, The Power Show menantang kita untuk menjawab pertanyaan mendasar: apakah kekuasaan sesungguhnya masih tentang substansi, ataukah ia telah sepenuhnya menjadi sebuah pertunjukan?