Madrasah bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan ruang pembentukan nilai, karakter, dan kepekaan sosial. Namun, tantangan abad ke-21 menghadirkan realitas yang tidak ringan: arus informasi yang deras, krisis keteladanan, melemahnya budaya literasi, dan relasi pendidikan yang kerap terasa kaku. Situasi ini mendorong penulis untuk mencari pendekatan pendidikan yang tetap berakar pada nilai-nilai Islam, tetapi mampu menjawab kebutuhan zaman.
Kurikulum Cinta dalam buku ini dipahami bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai cara pandang dan cara bersikap dalam pendidikan. Cinta hadir dalam relasi guru-peserta didik, dalam cara mendengarkan, membimbing, dan memanusiakan. Pendidikan yang berangkat dari cinta diyakini mampu melahirkan proses belajar yang lebih bermakna, karena peserta didik merasa diterima, dihargai, dan didampingi.
GALATAMA (Gerakan Literasi Madrasah) kemudian menjad ruang konkret untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut. Literasi tidak lagi dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai jalan untuk memahami diri, orang lain, dan dunia. Melalui literasi yang bernilai, peserta didik diajak berpikir,Buku ini ditulis dengan keyakinan bahwa pendidikai tidak berubah oleh konsep besar semata, tetapi oleh praktik kecil yang konsisten. la tidak menawarkan resep instan, melainkan mengajak pembaca berjalan bersama-merenung, mencoba, dan memperbaiki. Setiap madrasah memiliki konteks dan kekhasannya sendiri, dan buku ini diharapkan dapat menjadi teman berpikir yang fleksibel, bukan panduan yang kaku.