Ide tentang penyelenggaraan Pemilihan Umum di Indonesia sebenarnya dimulai dari keluarnya Maklumat X Mohammad Hatta pada bulan November 1945. Patut disayangkan Maklumat X itu tidak dapat berjalan dengan sempurna karena gangguan dari pihak Belanda yang berusaha kembali ingin menguasai Indonesia. Sehingga niat Belanda ini mendapat penentangan dari masyarakat Indonesia yang kemudian menghasilkan beragam perlawanan kepada Belanda di berbagai daerah. Sengketa itu kemudian baru selesai pada bulan Desember tahun 1949 di Den Haag. Setelah itu barulah Indonesia menjalankan roda pemerintahannya dengan memilih demokrasi sebagai sistemnya.
Keputusan Presiden Sukarno pada tahun 1953 untuk merealisasikan Pemilu mendapat sambutan hangat dari masyarakat di seluruh tanah air, tidak terkecuali di Medan yang menjadi basis penting dalam pelaksanaan Pemilu nantinya. Medan sendiri dalam suasana yang tidak terkendali karena banyaknya problema seperti kelaparan, maraknya kasus pencurian, dan sengketa agrarian. Walaupun demikian proses pelaksanaan Pemilu di wilayah tersebut berjalan lancar mulai dari kampanye partai politik, persiapan pemilu dan pelaksanaannya. Pemilu di Medan tahun 1955 dimenangkan oleh Masyumi dengan mengalahkan PNI, PKI, Baperki, dan NU sebagai penantang utamanya.
Buku ini akan menguak peristiwa Pemilihan Umum 1955 di tingkat lokal khususnya di Medan yang seringkali tidak tersorot dalam peristiwa sejarah. Buku ini juga akan membentangkan tradisi-tradisi partai politik dalam berkampanye yang sampai saat ini masih bisa kita saksikan menjelang Pemilu.