Bernard Haring, merefleksikan kebebasan dalam beberapa persepsi.
Pertama: Penciptaan sebagai Kejadian Kebebasan dan demi Kebebasan. Artinya, penciptaan yang telah terjadi, baik dunia, manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang merupakan peritiwa kebebasan dan demi kebebasan yakni penampakan diri Allah sendiri.
Kedua: Dari Perbudakan kepada Kebebasan dalam Kristus. Artinya, manusia tidak lagi hidup di dalam keberdosaan melainkan hidup dalam kasih Allah. Yesus Kristus adalah Pembebas.
Ketiga: Kami Percaya dalam Roh Kudus. Percaya akan kehadiran Roh Kudus, menjadikan kita anak-anak Allah.
Keempat: Kebebasan Yang berinkarnasi. Sabda yang menjadi manusia, menjadikan manusia untuk serupa dengan Kristus. Kemanusian kita nampak di dalam diri Yesus Kristus.
Kelima: Gereja sebagai Inkarnasi Kebebasan dan Kesetiaan Kristus.
Gereja merupakan penampakan kehadiran Allah. Allah menyatakan diri-Nya, dalam rupa Gereja yang kelihatan, untuk membawa kesaksian dan pewartaan bagi sesamanya. Jadi, menurut Bernard Haring, kita dapat sungguh-sungguh menjadi orang yang bebas, jika kita mengakui Sabda yang menjadi manusia sebagai sumber kebebasan kita, sehingga di dalam menjalani peziarahan di dunia, menjadikan Dia sebagai sumber kebebasan kita dan hidup kita pun mencerminkan kebaikan dan kebenaran-Nya yakni melakukan kebaikan, seraya mengucap syukur dan memuji-Nya serta memandang adorasi sebagai tanggapan atas kebaikan Tuhan.
“Religion is a living dialogue between God and the human person. The sacraments are the most intimate and personal encounter with God”
(Agama adalah dialog hidup antara Tuhan dan pribadi manusia. Sakramen adalah perjumpaan yang paling intim dan pribadi dengan Allah)
(Bernard Haring)