Buku Sosiologi Pembangunan: Teori dan Konsep menghadirkan telaah kritis atas pembangunan sebagai sebuah proses sosial yang sarat dengan kepentingan, ideologi, dan relasi kekuasaan. Buku ini menolak pandangan sempit yang menyamakan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi semata, dan mengajak pembaca memahami pembangunan sebagai arena perubahan sosial yang kompleks, multidimensional, serta penuh paradoks, terutama dalam konteks negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Melalui pembahasan historis dan konseptual, buku ini menelusuri evolusi studi pembangunan sejak era pasca-Perang Dunia II, mulai dari dominasi teori modernisasi dan model linier pertumbuhan, hingga munculnya kritik tajam melalui teori ketergantungan, sistem dunia, dan pendekatan post-pembangunan. Penulis menunjukkan bahwa banyak kegagalan pembangunan bukan disebabkan oleh kekurangan sumber daya, melainkan oleh cara pandang dan struktur global yang timpang.
Buku ini juga menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Pembangunan dipahami bukan sekadar proyek ekonomi atau teknokratis, tetapi sebagai proses yang harus memperluas pilihan hidup, martabat, dan kapasitas manusia. Isu-isu seperti kemiskinan, modal manusia, modal sosial, gender, dan partisipasi masyarakat dibahas secara mendalam untuk menunjukkan bahwa pembangunan yang mengabaikan aspek kemanusiaan justru melahirkan ketimpangan dan eksklusi sosial.
Dalam konteks globalisasi dan perubahan sosial kontemporer, buku ini mengulas peran komunikasi, teknologi, inovasi, dan kewirausahaan dalam pembangunan. Penekanan diberikan pada pentingnya pendekatan berbasis aktor dan komunikasi partisipatif, di mana masyarakat lokal dipandang sebagai subjek aktif yang mampu menafsirkan, merespons, bahkan menegosiasikan agenda pembangunan sesuai dengan realitas sosial dan budaya mereka.
Dengan menghadirkan studi kasus regional, khususnya Aceh, buku ini memperkaya pemahaman teoretis dengan realitas empiris. Pengalaman pembangunan pasca-konflik dan pasca-bencana menjadi cermin bagaimana pembangunan sering kali berhadapan dengan trauma, ketidakpercayaan, dan dinamika lokal yang rumit. Secara keseluruhan, buku ini merupakan undangan intelektual untuk berpikir kritis, menggugat narasi pembangunan arus utama, dan merumuskan arah pembangunan yang lebih adil, manusiawi, dan berakar pada konteks sosial masyarakat